[Review] Turah

Sinopsis

Film TURAH menceritakan tentang permasalahan sosial kehidupan pada tatanan lapisan masyarakat kelas bawah. Film ini realita kehidupan di Kampung Tirang, Tegal. Kerasnya persaingan hidup, yang menyisakan orang-orang kalah dari kampung Turah. Awalnya mereka semua dijangkiti oleh sifat pesimisme dan juga diliputi perasaan takut. Terutama kepada Darso, yaitu juragan kaya yang telah memberi para penduduk ‘kehidupan’. Namun mereka bangkit, berjuang untuk melawan rasa takut mereka dan memperjuangkan hak mereka.

Pakel, dan para sarjana penjilat di lingkaran Darso melakukan berbagai cara dan membuat para warga kampung semakin bermental kerdil. Hal itu dimaksudkan agar tercipta situasi memudahkan Darso untuk terus mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya.

Setitik optimisme dan juga sebuah harapan untuk dapat terlepas dari kehidupan tanpa daya, hadir di dalam diri Turah dan juga Jadag. Peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, mendorong mereka untuk melawan rasa takut yang sudah akut tersebut, dan juga meloloskan diri dari narasi yang sangat penuh kelicikan. Hal ini adalah sebuah usaha sekuat daya dari mereka berdua, dan juga dari orang-orang di Kampung Tirang, supaya mereka tak lagi menjadi seorang manusia yang kalah, dan manusia sisa-sisa. Seperti apakah kisah lengkapnya? Silakan kunjungi bioskop yang menayangkan film ini.

 

REVIEW [ditulis oleh Prast Lampard]

Saya mungkin termasuk salah satu penikmat film yang bersyukur dengan masuknya film festival, atau film non komersil, atau film ‘idealis’ ke dalam bioskop 21/XXI, meski hanya tayang di sedikit bioskop dan dalam waktu yang singkat. Ya, saya akan memburunya di awal tayang, kadang menjelang ‘masa berlakunya’ habis di bioskop. Saya sangat suka dengan film-film ‘tak biasa’ seperti ini, yang dibuat dan diperankan oleh seniman-seniman ‘nyeleneh’ asli daerah. Setelah SITI, ISTIRAHATLAH KATA-KATA, ZIARAH, dan lain-lain, kini hadir lagi, TURAH.

Wicaksono Wisnu Legowo meracik TURAH dengan gamblang, jujur, tanpa basa-basi. Sutradara muda ini terlihat sangat memahami kultur di kampung tersebut pada film pertamanya ini. Jadi, saya pun menikmatinya dengan cerita yang mengalir apik, dengan benang merah yang diangkat sangat sederhana yaitu tentang kecemburuan sosial. Aliran ceritanya pun semakin kuat dengan pemain-pemain bukan bintang yang memainkan perannya masing-masing sangat natural, termasuk dengan logat ngapak Tegal-nya yang menurut saya semakin memperkaya film ini lewat bahasa daerah tersebut. Bahasa Tegal yang digunakan memang terdengar jenaka bagi sebagian penonton di TIM XXI yang nonton bersama saya. Mereka tertawa dan menirukan dialog dengan sangat berisik, yang ada di awal hingga tengah film. Bagi saya, hal itu sangat mengganggu karena scene yang ditampilkan adalah cerita yang serius dan menyentuh.

Semua pemain bermain bagus. Dua tokoh sentral di sini adalah Turah dan Jadag. Untuk setiap adegan dan dialog, tidak ada gugup terlihat dari mereka. Dan kalau saya boleh memilih pemain terbaik di film ini, saya akan memberikan penghargaan untuk Slamet Ambari yang memerankan Jadag. JUARA banget aktor ini. Salut, kagum, angkat topi.

Dari segi sinematografi, sebenarnya tidak ada yang istimewa dari film ini. Hanya saja, entah kenapa angle-angle dan permainan cahaya, sampai tampilan gambar saat hujan membuat saya kagum. Bahkan akhir film ditutup dengan kamera yang seperti tidak sengaja jatuh, ini asli nyeleneh banget. Saya suka.

Film ini memang hanya menceritakan kehidupan di Kampung Tirang, Tegal, Jawa Tengah. Tetapi terlihat jelas sasaran film ini juga mengkritik kehidupan di negeri ini. Apa yang terjadi pada Turah, Jadag, Darso, Pakel, dan seluruh warga kampung ada di kehidupan kita sehari-hari, sangat dekat. Iya, sangat dekat! Dan salah satu ciri khas film-film seperti ini adalah, penonton tidak dibiarkan keluar bioskop dengan nyaman karena sudah mengerti film ini, tidak! Bagaimana, sih? Iya, ending film dibuat gantung, dan penonton disuruh mikir sekeluarnya dari bioskop untuk menebak dan mengerti sendiri arah atau arti atau maksud filmnya. Ini yang paling saya suka. KEREN!

Dari saya:
images

TURAH

Genre: Drama
Sutradara: Wicaksono Wisnu Legowo
Rumah Produksi: Fourcolours Films
Penulis Skenario: Wicaksono Wisnu Legowo
Produser: Ifa Isfansyah
Durasi Film: 83 menit

Pemain

Ubaidillah: Turah
Slamet Ambari: Jadag
Yono Daryono: Darso
Rudi Iteng: Pakel
Narti Diono: Kanti [istri Turah]
Siti Khalimatus Sadiyah: Sulis [gadis cilik perawat neneknya]
Cartiwi: Rum [istri Jadag]

TRAILER

Advertisements

[Review] Banda The Dark Forgotten Trail

DGtVBmyUwAACQZS

SINOPSIS

Film dokumenter tentang Jalur Rempah Nusantara pada tahun 1500’an yang saat itu harga pala di Eropa jauh lebih mahal dari harga emas. Monopoli bangsa Arab dan Perang Salib membuat Eropa mencari pulau penghasil rempah. Kepulauan Banda yang tersebar di Laut Banda, Maluku Tengah, dengan kota terbesarnya Banda Neira, pada waktu itu merupakan satu-satunya tempat pohon pala tumbuh. Kepulauan Banda pun diperebutkan, bahkan Belanda rela melepas Nieuw Amsterdam (sekarang Manhattan, New York) demi bisa mengusir Inggris dari Banda, ditukar dengan Pulau Rhun di Kepulauan Banda.

Perbudakan dan pembantaian pertama di Indonesia terjadi di Kepulauan Banda yang melahirkan semangat kebangsaan dan multikultural. Kepulauan Banda sekarang telah menjadi situs warisan sejarah Dunia.

Dalam BANDA THE DARK FORGOTTEN TRAIL diperlihatkan kepulauan Banda yang kini terlupakan, yang pada masa lalu menjadi kawasan paling diburu karena menghasilkan pala terbaik. Pala sendiri menjadi salah satu komoditi rempah yang dihargai sangat tinggi pada eranya.

Tak hanya pala, sejarah Banda penuh dengan darah dan kesedihan. Kejayaan Banda dan pala berubah saat VOC tiba dan melakukan aksi paling brutal sepanjang sejarah. Dari jumlah 15.000 orang, setelah peristiwa pembantaian pada tahun 1621 jumlah penduduk asli Kepulauan Banda hanya tersisa 480 orang.

Banda juga turut berperan penting dalam lahirnya Indonesia. Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Dr. Tjipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusuma Sumantri dibuang ke Banda Neira. Di Banda tempat pengasingan mereka inilah muncul ide-ide kebangsaan. Bahkan Nama Hatta dan Sjahrir diabadikan sebagai nama pulau yaitu Pulau Hatta (menggantikan nama Pulau Rozengain) dan Pulau Sjahrir (menggantikan nama Pulau Pisang)

REVIEW [ditulis oleh Prast Lampard]

“Anak-anakku takut nontonnya, serem kata mereka. Kirain nampilin keindahan Banda kayak laut biru, banyak ikan-ikan dan terumbu karang indah, langit cerah, aktivitas-aktivitas warganya, pokoknya terang, deh, ternyata bukan.” ucap seorang teman saya yang baru selesai nonton film ini.

Kalau ingin menyaksikan film Banda yang seperti itu, saya rasa di youtube cukup banyak dan mudah didapat. Tetapi saya sangat setuju film ini dibuat dengan konsep sesuai tema yang mengangkat sejarah gelap, kelam dan mencekam Banda tempo doeloe, dengan tampilan DARK!

Dua kali saya nonton film ini, dua kali pula nyaris sepanjang film saya merinding. Kenapa? Karena hampir semua tempat yang ditampilkan sudah pernah saya kunjungi, dan cerita kelam tersebut sudah saya dapat dari saudara-saudara saya di Banda yang memandu saya ketika menjelajah Kepulauan Banda. Ya, sejarah yang tidak pernah saya dapat di sekolah, baru saya ketahui November 2014 saat saya mulai mendarat di Banda Neira. Lewat film ini, sejarah yang lebih detail semakin saya dapat.

Setuju dengan sang sutradara, Jay Subyakto, yang mengatakan bahwa ini cara belajar sejarah yang efektif dan asyik. Jay Subyakto mengisahkan sejarah Kepulauan Banda dan pala dengan sangat apik lewat narasi bergaya puitis yang dibawakan Reza Rahadian (versi bahasa Indonesia yang saya tonton). Entah apa isi kepala Jay? ‘Sadis’ banget, dahsyat! Kalau bukan Jay, mungkin filmnya tidak akan se-KEREN BANGET ini! Sinematografi yang luarbiasa ciamik, melibatkan enam D.O.P andal, menampilkan gambar-gambar JUARA penuh nilai artistik tinggi, dengan iringan musik yang membuat filmnya menjadi semakin megah. Angle-angle tak biasa, potongan-potongan gambar yang cepat, pengulangan-pengulangan beberapa gambar yang ditampilkan, pewarnaan, hingga perpaduan dengan animasi semuanya diramu sangat bagus. Bahkan hanya menampilkan jendela kayu dan pintu rumah warga Banda saja, bagi saya sangat mengagumkan.

Dari segi cerita, BANDA THE DARK FORGOTTEN TRAIL mengisahkan sejarah Banda yang menjadi cikal bakal Indonesia dengan sangat detail. Menghadirkan narasumber yang sangat kompeten dan menguasai soal Banda. Ada sejarawan, tokoh dan warga Banda seperti DR. H. Usman Thalib, Pongky van den Broeke, Wim Manuhutu, Lukman A. Ang, Shafira Boften, Mita Alwi, dan lain-lain. Mereka bercerita dengan sangat lugas dan jelas, memberi gambaran dengan sangat baik. Kalau saya boleh memilih narasumber idoala saya, beliau adalah Pak Pongky van den Broeke, keturunan ke-13 seorang perkenier asal Belanda, yang mampu bertutur dengan artikulasi dan intonasi yang jelas, serta penggunaan bahasa Indonesianya sangat baik sesuai dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan Pedoman EYD. Beliau seorang yang pintar dan berwawasan luas, itu terlihat dari setiap kata dan kalimat yang keluar dari mulutnya, sangat berisi. Kisah beliau dan keluarganya di tahun 1999-lah saat terjadi kerusuhan dahsyat di Maluku yang paling membuat saya menangis.

Saya hanya menonton dengan narasi berbahasa Indonesia yang diantarkan oleh Reza Rahadian. Reza menjadi narator yang sangat bagus di sini. Suara yang berat, kalimat-kalimatnya jelas, termasuk ketika ia berbahasa Perancis membacakan coretan di jendela kaca Istana Mini, dan yang paling menyentuh ketika ia membacakan sebuah puisi karya Chairil Anwar, Cerita Buat Dien Tamaela. Pilihan yang sangat tepat, dan menunjukkan bahwa Reza bukan hanya aktor yang bagus serta laku secara fisik dan akting, tetapi suaranya juga bisa ‘dijual’.

Saya setuju dengan pesan Pak Usman Thalib yang mengatakan bahwa di masa depan masyarakat Banda boleh maju dan berkembang, tetapi beliau berharap Banda tetap menjadi seperti sekarang sebagai daerah yang penuh sejarah, daerah kolonial abad ke-17, dengan mempertahanakan nilai-nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Pun pesan Pak Wim Manuhutu sangat saya setujui bahwa beliau tidak ingin Banda dikunjungi banyak wisatawan, tetapi mereka tidak mengerti apa yang dilihat, hanya jalan-jalan dan menikmati yang bagus-bagus saja. Beliau ingin wisata sejarah dan budaya dikembangkan di Banda. Dan mendengar pesan beliau, saya bersyukur saat berkunjung ke Kepulauan Banda bersama NEGERI {KITA} SENDIRI, melakukan seperti apa yang beliau mau. Dari situlah untuk kali pertama saya tahu sejarah Banda.

Kenapa film ini harus ditonton? Ini adalah sejarah besar yang tidak pernah saya dapat di sekolah. Banda adalah cikal bakal lahirnya INDONESIA. Ya, dari Banda-lah INDONESIA menjadi ada. Keberagaman sudah ada di Banda sejak dahulu dengan bermukimnya orang-orang Persia, India, dan Cina, serta berbagai agama dan keyakinan pun sudah hidup bersama di Banda. Ini juga film dokumenter yang disajikan dengan cara berbeda dan menarik.

Bagi saya, BANDA THE DARK FORGOTTEN TRAIL adalah FILM DOKUMENTER TERBAIK INDONESIA yang pernah saya tonton. Bahkan mungkin bisa menjadi yang terbaik sepanjang masa.

Film BANDA THE DARK FORGOTTEN TRAIL ditutup dengan puisi yang semakin membuat saya hanyut, dibacakan oleh sang narator, Reza Rahadian, dengan sangat elok, dilanjutkan dengan lagu INDONESIA RAYA yang dinyanyikan anak-anak Banda sambil mendayung perahu mereka di laut Banda.

CERITA BUAT DIEN TAMAELA
Karya: Chairil Anwar

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu

Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut

Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan

Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama

Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.

Mari menari!
mari beria!
mari berlupa!

Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau…

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu

 

Salut, kagum, bangga, dan angkat topi untuk semua pihak yang terlibat dalam pembuatan film yang semakin membuat saya kangen Banda dan jadi pengin segera kembali lagi ke sana. Terima kasih yang teramat sangat dari saya, Prast.

Director: Jay Subyakto
Script Writer: Mohammad Irfan Ramly
Producer: Sheila Timothy
Co-Produser: M. Abduh Aziz
Line Producer: Sari Mochtan
Music: Indra Perkasa
Sound Designer: Satrio Budiono
Sound Recordist: Yusuf A. Patawari
Cinematography: Rahmat Syaiful
Film Editing: Aline Jusria, Cundra Setiabudhi, Syauqi Tuasikal
Second Unit Camera: Davy Linggar, Oscar Mtuloh
Animation Producer: Agam Amintaha
Creative Consultant Animation: Chandra Endropoetro
Animation Art Director: Damas Nawanda
Post-Production Producer: Rico Mangunsong
Narator: Reza Rahadian (bahasa Indonesia), Ario Bayu (bahasa Inggris)

TRAILER

Review: Filosofi Kopi 2: Ben & Jody

“Kopi itu bukan untuk diminum, tapi dinikmati.” ujar pak Haryo (Tyo Pakusadewo)

FILKOP2 - Official Poster_FINAL copy

Pun dengan film ini, BUAT GUE, asyik banget dinikmati. Kali ini gue nulis review selain (masih) sebagai penikmat film bukan pengamat, juga sebagai penikmat kopi, dan orang yang kadang-kadang traveling. Hanya kadang-kadang. Silakan berbeda pendapat dengan gue, karena selera film kita bisa saja berbeda, dan menonton dari kacamata yang berbeda. Gue nulis semau gue, sesuai yang ada di kepala dan hati gue, jadi SANGAT SUBJEKTIF!

Gagasan ceritanya hasil dari dua pemenang kompetisi #NgeracikCerita Filosofi Kopi 2 yang dilombakan. Dari cerita mereka, Jenny Jusuf dibantu Irfan Ramly mengembangkan ceritanya, dengan Angga Dwimas Sasongko dan Dewi ‘Dee’ Lestari sebagai konsultan skenario. Benang merahnya adalah, Ben [Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) ingin membangun kembali Filosofi Kopi yang kedainya di Jln. Melawai, Jakarta Selatan, telah dijual dua tahun lalu, kemudian mereka menjajakan kopi menggunakan kombi keliling Indonesia seperti Bromo, Bali, dll, untuk membagikan kopi terbaik. Puncaknya, di suatu malam Aga dan Aldi menyatakan resign mengikuti Nana yang lebih dulu resign karena hamil, Ben dan Jody memutuskan menghentikan ‘petualangan’ tersebut, dan ingin kembali ke Jakarta guna mencari investor untuk Reopening Filosofi Kopi. Hadirlah sosok Tarra (Luna Maya) sebagai investor, diikuti Brie (Nadine Alexandra) sebagai barista baru. Mereka pun akhirnya juga punya kedai Filosofi Kopi di Yogyakarta. Cerita selanjutnya? Nonton aja, deh, ke bioskop. Hahahaha…

▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪

Gue sebagai penikmat kopi, yang dulu cuma kenal kopi sachet, lalu mulai tau kopi-kopi Indonesia dari berbagai daerah dan menikmatinya akibat sokongan dari teman-teman yang pergi ke daerah dan menghadiahi kopi, sampai mulai bisa membedakan kopi dari Sumatera, Jawa, Bali, Toraja, Flores, hingga Papua, lalu mengerti perbedaan Robusta dan Arabica, hingga kini terbiasa minum kopi Arabica yang asam tanpa gula, kisah tentang kopi di film ini masih cukup detail. Tentang pertanian atau budidaya kopi, kedainya yang unik dan etnik, peralatan-peralatannya, teknik meraciknya, dan cara nyeruputnya, gue suka banget! Bikin sugesti untuk menikmati kopi saat nonton muncul ke permukaan. Jadi pengin punya bisnis kopi juga deh. Hehehehe…

Lebih banyak tokoh di film yang kedua ini, tetapi porsi terbanyak tetap menjadi milik Ben, Jody, Tarra, dan Brie. Tokoh-tokoh tambahan aktor-aktor senior seperti Landung Simatupang (Pak Susno), Tyo Pakusadewo (Pak Haryo), Whani Darmawan (Pak Waluyo), dan Otig Pakis (Ayah Ben), ditambah pemain-pemain muda seperti Ernest Prakasa (Keenan), Melissa Karim (Cici), Muhammad Aga (Aga), Aufa Assegaf (Aldi), Westny DJ (Nana), dan Joko Anwar (Jokan si penagih utang), bermain sesuai porsinya yang memiliki peran cukup penting di film ini.

Konflik yang dihadirkan cukup dalam. Penyebab konflik adalah seorang pengusaha yang tidak ada tokohnya dalam film ini, tetapi hanya dihadirkan lewat sebuah simbol. Jenius, sih, cara ini menurut gue. Apaan? Ya nonton aja. Yang pasti konfliknya nggak kacangan, deh!

Terjadi kisah cinta antara empat tokoh utamanya. Tapi percintaannya nggak menye-menye, bahkan tidak ada adegan ciuman satu kali pun. Percintaan yang asyik dilihat. Sangat dewasa, bukan a la 4L4Y.

Sebagai orang yang kadang-kadang traveling, gue senang dan kagum lihat view yang ditampilkan film ini untuk Bromo, Bali, Jogja, Makassar (meski hanya kota), dan Toraja. Keren banget! Termasuk promo pariwisata juga, sih, ini. Hhmmm… jadi pengin traveling (lagi).

Soundtrack dalam film ini dari band-band indie sangat manis, enak dikupingin, dan sesuai dengan kebutuhan tiap scene. Bahkan beberapa band ikut tampil dalam film, dan saat Fourtwnty manggung membawakan lagu “Zona Nyaman”, lirik lagunya membuat Ben termotivasi untuk menghidupkan kembali Filosofi Kopi ketika ia dan Jody berada tepat di depan panggung. Cerdas!

Sponsor film ini banyak banget, namun dihadirkan nggak terlalu frontal, cukup halus, lah. Pintar.

Akting Luna maya (Tarra) melebihi ekspektasi gue, BAGUS! Meski di usianya yang baru 33 tahun ia terlihat jauh lebih dewasa, sih, di film ini. Apalagi sering banget wajahnya ditampilkan segede layar bioskop, full. Mungkin juga karena dia investor jadi harus tampil dewasa kali, ya? Yang jelas, Luna layak, lah, menjadi nominator Pemeran Pembantu Wanita terbaik FFI nanti, bahkan membawa pulang Piala Citra, saya setuju.

Nadine Alexandra (Brie) hadir sebagai barista yang sangat cantik, kutu buku, lutcyuuuuu, hitam manis, lugu, lempang, dan menggemaskan. Kacamatanya bikin tambah kece, dan nggak lama lagi gue yakin akan melihat banyak wanita memakai kacamata seperti Brie. Iya, bakal ngetren, sih, ini. Oiya, jerawat kecil-kecil di wajahnya malah menambah manis. Brie adalah idola gue di film ini.
*Apaa siiiiiiih??? Hahahahaha…

Ben dan Jody, ah, chemistry-nya semakin megang. Konflik pun tidak mampu memutus tali persahabatan mereka. Banyak kelakar dari mereka berdua lewat Ben yang temperamental, dan Jody yang penyabar. Paling asyik kalo mereka sudah mengeluarkan umpatan-umpatan, alami banget. Termasuk umpatan-umpatan menggunakan bahasa Tiongkok. Kocak dan seru! Tak lupa istilah “gondrong” dari mereka untuk menyebut wanita-wanita berambut panjang, itu menghadirkan kejenakaan tersendiri, sih, menurut gue.

Angle-angle yang ditampilkan oleh Angga Dwimas Sasongko di film ini juara banget. Sangat apik, dan gue suka! Ngefans abiiiiiiiissss… 👍

Film kedua ini lebih dewasa dan complicated. Kalo disuruh milih, gue lebih suka yang kedua ini, ‘Filosofi Kopi 2: Ben & Jody’ tahun 2017, daripada ‘Filosofi Kopi (The Movie)’ tahun 2015.

“Ayahku dulu pernah bilang, ada hal yang lebih penting dari sekadar membuatkan kopi untuk orang lain.” kisah Ben. Lalu Brie memotong omongan Ben, “Menanam kopi.”

Film yang asyik untuk dinikmati.

Dari gue:
3,5/5

#FilmIndonesia
#FilmBagusIndonesia
#CintaFilmIndonesia
#BanggaFilmIndonesia

Pengalaman Saya ‘Try Scuba Diving’

Saya sudah diajak main ke laut oleh [almarhum] kakek yang kerjaannya tukang interogasi penjahat/kriminal di KODIM Jatinegara sejak umur 3 atau 4 tahun, cuma naik perahu aja, sih. Lalu mulai intensif main di laut dan jadi sering, bahkan hampir tiap tahun ke laut mulai tahun 2007. Hanya main papan selancar yang dari gabes, naik ban, banana boat, perahu, pakai pelampung, hingga akhirnya mencoba snorkeling, dan tahun 2013 ikut latihan freedive di Senayan, lalu mempraktikkannya kalo lagi main di laut. Yaaaaah… walau bisa sekadarnya aja, nggak sehebat mereka yang rajin latihan dan melatih saya waktu itu. Masih cetek banget, deh, ilmu saya. Masih cemen sampe sekarang soal freedive.

Terus, saya mulai berpikir, nih, udah terlalu lama hanya snorkeling, pengin juga merasakan scuba diving, tapi, kan, harus punya lisensi. Faktor biaya, sih, yang bikin saya belum sempat ikut kelas lisence diving. Tetap, sih, gemas pengin merasakan sensasi bertualang di dasar laut. Akhirnya belum lama ini saya nemuin brosur SAHABAT SELAM. Kayaknya udah terbuka, nih, pintunya.

Wah, udah ada rezekinya buat ngambil lisensi, Prast? Nggak juga, kok! Tapi SAHABAT SELAM ini menawarkan program yang namanya TRY SCUBA DIVING. Apa itu?

TRY SCUBA DIVING (TSD), tuh, kita latihan diving non-sertifikat (di kolam renang GOR Ragunan) lengkap dengan peralatan diving di bawah bimbingan instruktur yang berpengalaman pastinya. Sekitar 2 jam aja, terdiri dari teori, persiapan, latihan diving, dan diskusi seputar kegiatannya. Biayanya juga murah banget, hanya Rp300.000 per orang. Waktunya? Dari SAHABAT SELAM membuka setiap hari, kok, waktu latihannya, tergantung siapnya peserta. Nah, hati-hati ketagihan! Kalo udah ketagihan, mau ngambil lisensi diving bersama SAHABAT SELAM, silakan banget!

Lalu saya berencana pengin mulai TSD ini abis Lebaran, di bulan Juli 2017. Setelah itu kalo nagih, ya, saya juga akan ambil kelas untuk dapat lisensi menyelam. Keamanan dan keselamatan jadi prioritas utama SAHABAT SELAM, jadi jangan khawatir karena di bawah pembimbing atau instruktur profesional.

DSC_7099

 

Akhirnya rencana saya untuk mencoba TSD terwujud masih di awal Juli 2017, tepatnya hari Minggu, 2 Juli 2017, jam 10 pagi, di kolam renang GOR Ragunan. Maksudnya hanya survey lokasi membuntuti SAHABAT SELAM, malah diajak mencoba TSD. Siapa yang bisa menolak? Oiya, sebelumnya saya udah mempelajari tentang TSD lewat eLearning Passport Scuba Diving sampe lulus. Ujian teori online, deh, istilahnya, untuk mendapati surat izin TSD. Hehehe…

Kolam renang GOR Ragunan ini tempat yang sangat bagus, bersih, keamanannya ketat demi kenyamanan pengunjungnya, dan selain tempat berenang biasa, memang digunankan untuk latihan diving oleh sekolah-sekolah Scuba Diving, juga untuk latihan freedive (menyelam tanpa alat selam) yang dulu sempat saya ikuti di kolam renang GBK Senayan tahun 2013-2014. Biaya masuk untuk berenang Rp10.000 per orang, untuk diving Rp40.000 per orang. Murah, kan?

DSC_7147

 

Mulailah saya ber-TSD diawali dengan teori perkenalan alat, cara menggunakannya, diuji dengan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya ada di eLearning yang sudah saya baca dan selesaikan soalnya, mempraktikkan beberapa teknik yang ada di eLearning sebelum menggunakan alat dan nyemplung ke kolam, praktik hand signal, pokoknya mempraktikkan segala teknik yang akan dilakukan saat di dalam kolam, deh. Seru banget, di bawah bimbingan instruktur yang juga owner SAHABAT SELAM, Mas Anda. Lebih menyenangkan lagi karena sang instruktur adalah sosok yang baik hati, tidak pernah marah, banyak senyum, tertawa, tapi tetap tegas demi menularkan ilmu ke saya, dan yang paling penting keselamatan saya saat di kolam nanti.

 

Teori di atas kolam selesai. Bersiap mempraktikkan semua yang saya dapat untuk diaplikasikan di bawah kolam. Mulailah instruktur memasangkan semua alat ke tubuh saya di pinggir kolam, lalu nyemplungin saya. “Badannya miring ke kiri, Prast. Nanti saya dorong ke kolam. Regulator di mulut sambil dipegang, nanti pas masuk kolam menghadap ke bawah, latihan bernapas.” perintah instruktur.

 

Byuuuuuuurrrr… Saya pun diceburkan ke kolam. Berdasarkan perintah instruktur, saya harus awali dengan latihan bernapas menggunakan regulator. Daripada disetrap nanti, saya turutin, deh, perintahnya. Hahaha…

Eiiiiitttsss… Ternyata tidak semudah yang dibayangkan, lho, meski hanya disuruh bernapas. Sempat kagok ketika menarik napas dan mengembuskannya. Di awal mencoba, berasa udara nggak sampe ke paru-paru. Ternyata itu hanya karena saya kurang rileks. Setelah itu lancar jaya kayak jalanan Jakarta saat libur Lebaran.

 

Tibalah pada sesi teori semua teknik, yang dilakukan di dalam kolam, tetapi dalam keadaan diam, belum menjelajah kolam. Ada yang dilakukan di permukaan kolam, ada juga sambil berlutut di dalam kolam. Asyik banget! Kuncinya rileks, buat diri saya senyaman mungkin, dan fokus. Tidak mudah, apalagi kalo panik, semua ilmu di eLearning dan teori di atas kolam bisa buyar. Nggak langsung lancar, harus diulang-ulang, tapi akhirnya jadi bisa karena biasa. Iya, harus diulang-ulang hingga hafal dengan sendirinya, dan memiliki daya refleks yang tinggi. Kebiasaan gitu, deh.

 

“Siap keliling kolam?” tanya instruktur kepada saya. Saya jawab, “Siap!”, dan kami pun keliling kolam sekitar 30-45 menit. Keliling kolam doang? Oh, tentu tidak! Selama bergerak di bawah kolam, instruktur memberikan ujian kepada saya. Memerintahkan membersihkan masker (tidak hanya membersihkan dengan masker tetap menempel di wajah, tetapi juga membuka masker seluruhnya hingga pandangan sangat buram), membersihkan regulator, mengisi dan mengeluarkan udara untuk Buoyancy Compensator (semacam jaket yang dipakai di badan) guna tenggelam dan terapung, mengajak ngobrol menggunakan hand signal, equalize saat telinga terasa sakit, memeriksa gauge, membelokkan arah, up and down, dan lain-lain. Kagok banget di awalnya, semakin lama seperti refleks dengan sendirinya aja tanpa diperintah.
(Aktivitas keliling kolam ini tidak ada fotonya karena di bawah kolam, tidak terlihat. Kami belum mempersiapkan kamera underwater hari itu)

Usai praktik, apakah sudah hafal dan lancar melakukannya? Tidak semua. Justru masih banyak yang harus dipelajari dan praktikkan ulang agar terekam semua di kepala, dan semakin terbiasa serta luwes dalam praktik. Makanya, Sabtu pekan ini, 8 Juli 2017, saya mau mengulanginya lagi di tempat yang sama bersama sahabat-sahabat saya antara lain Mochamad Topandi (Topan/Badai), Jessica Ramadhani (Jessica/Kuki, istrinya Topan), Eureka Sari (Sari), Khalid Abdurrahman (Olid), dan Dachri Megantara S (Dachri). Intinya, sih, rileks, dibikin nyaman, fokus, dan dibawa senang/bahagia/gembira, karena kegiatan ini TERAMAT SANGAT MENYENANGKAN!

Kok, pengin ngulang lagi? Kenapa nggak ngambil license diving aja sekalian, Prast? Ya, sabar, dong. Pelan-pelan aja. Kalo tiba waktunya, InsyaAllah, Allah wujudkan, kok. Aamiin.

 

TAMBAHAN:

Usai saya melakukan semua yang saya ceritakan di atas, gantian giliran sang istri instruktur yang melakukan apa yang telah saya lakukan sebelumnya. Iya, Uni saya, Uni Imelda Achsaningtias pun beraksi. Sama, nih, kayak saya yang nggak bisa berenang, tapi Uni Imel suka banget dan sering snorkeling di laut. Beliau pun ingin naik 1 (satu) level dalam hal selam-menyelam, dan juga berniat ingin mengambil license diving. Bagaimana cerita sepasang suami istri ini saat TSD? Ah, saya nggak tau ceritanya. Itu urusan rumahtangga mereka, saya nggak mau mencampurinya, nggak baik ikut campur urusan rumahtangga orang lain. Hahahahahaha…
(Apa siiiiiiihh, Praaaaaast????)

Nggak… nggak… nggak… saya hanya bercanda, kok! Cerita pengalaman Uni Imel untuk kali pertama TSD sudah beliau share di akun facebook dan path-nya. Simak, deh. Seru kisahnya!

 

Selagi mereka ber-TSD, giliran saya menjaga kedua buah hatinya, Bang Ryu dan Dek Mila, hingga kedua orangtuanya selesai latihan. Menjaga ponakan yang seru, lincah, gesit, nggak bisa diam, harus ekstra hati-hati. Belum kelar kedua orangtuanya latihan, anak-anak ini sudah kelaparan. Pun dengan pamannya ini, lapar banget. Untunglah untuk mengganjal perut kami tersedia camilan. Usai latihan, mandi, barulah kami makan siang, lalu pulang.

Penting:
Camilan itu harus ada karena bermain di air ini cepat lapar. Hihihihihi…

IMG-20170702-WA0052IMG-20170702-WA0051IMG-20170702-WA0053

 

Bagi teman-teman yang tertarik dan ingin daftar Try Scuba Diving, atau langsung ambil kelas license diving, bisa lewat SAHABAT SELAM. Untuk Try Scuba Diving, peserta hanya membawa diri, pakaian ganti, perlengkapan mandi/bilas, dan boleh banget kalo mau bawa camilan, sangat dianjurkan! Untuk semua peralatan menyelam, disediakan oleh SAHABAT SELAM, komplit! Biaya TSD yang Rp300.000 itu juga sudah termasuk tiket masuk kolam Renang GOR Ragunan untuk diving Rp40.000 per orang.

Mau lewat saya sebagai penghubungnya boleh, atau langsung ke SAHABAT SELAM juga boleh. Silakan banget, lhooooooo… 😉

SAHABAT SELAM
Scuba Diving School
Jl. Limau No. 9A, Kebayoran baru, Jakarta Selatan
Ponsel: 0812-8877-8835 / 0812-8923-6556
Website: www.sahabatselam.com

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Penulis: Prast Lampard
Foto: Imelda Achsaningtias, Prast Lampard

Facebook: Prast Lampard
Twitter: @Prast_Lampard
Instagram: Prast_Lampard
Path: Prast Lampard

Jamuan di Suwe Ora Jamu

“Jamu adalah salah satu kekayaan dari budaya tinggi bangsa ini. Bermacam ragam jenis jamu bisa ditemukan dari ujung Barat sampai Timur Indonesia. Ada keseragaman fungsi dari masing-masing jamu tersebut, yakni dari penyembuhan dan menjaga kesehatan tubuh.”
[Galeri Cerita Jamu, www.suweorajamu28.com]

suwe-ora-jamu-5

Menerobos kemacetan Jakarta mulai dari depan kantor di Setiabudi, lalu Dukuh Atas hingga pejompongan, dan baru lepas lancar setelah Palmerah guna mencapai ketepatan waktu yang ditentukan dalam acara Buka Puasa Bersama di kedai Suwe Ora Jamu, Petogogan, Kebayoran Baru, harus saya lakukan menggunakan ojek online, Jumat, 9 Juni 2017. Belum lagi, mata ini tak boleh lepas dari Google Maps, dan sempat bertanya kepada warga di Jln. Radio Dalam karena ini kali pertama saya [akan] ke Suwe Ora Jamu. Bersyukur, meski kemeja putih lengan panjang yang saya kenakan harus bau asap knalpot, dan wajah terasa penuh debu [walau menggunakan helm], akhirnya saya tiba di kedai tersebut. Karena tidak pede, saya pun mengirim pesan WhatsApp kepada seorang kakak yang mengajak saya menghadiri acara di tempat ini, Mbak Terry Endropoetro (blog.negerisendiri.com). “Mbak Ter, aku sudah sampai, nih.” pesan yang kukirim. Muncullah beliau, dan menyambut saya penuh kehangatan. *iki opoooooo?*

Suwe Ora Jamu, Apa Itu?

Di artikel ini saya bukan ingin menceritakan secara detail kedai Suwe Ora Jamu karena sudah banyak yang melakukannya, apalagi kedai ini juga punya website sendiri, tetapi lebih kepada aktivitas kami saat buka puasa bersama dengan tema ‘LIWETAN’. Tetapi boleh, lah, saya tuturkan tentang Suwe Ora Jamu di muka tulisan ini.

Ketika membuka pintu kedai, langsung takjub saya dibuatnya. Selama ini saya hanya tahu Suwe Ora Jamu dari media online dan sosial. Namun auranya sangat berbeda saat saya menjejakkan kaki di dalamnya. Saya katakan ini sebagai “kafe tak biasa” karena tempatnya yang sangat unik, eksentrik, klasik, dan menarik. Gabungan konsep tradisional-modern, desain interior, peralatan-peralatannya, properti, hiasan dinding, dan lain-lain yang tersaji bagi penglihatan saya sangat memanjakan mata dan menyenangkan hati. Menyenangkan hati? Iya, karena saya suka sekali yang kuno-kuno dan langka, apalagi kedai ini letaknya di tengah ibu kota negara ini. Anti-mainstream!

“Kok, bisa, sih, ada kafe seperti ini di Jakarta? Siapa inisiatornya?”

Berawal dari kecintaannya terhadap jamu, Nova Dewi Setiabudi bersama sang suami, Uwi Manthovani, yang menyukai barang-barang kuno berinisiatif mendirikan sebuah kedai jamu yang jauh dari kesan ‘kampungan’. Akhirnya, lahirlah kedai Suwe Ora jamu ini. Yang saya sambangi ini letaknya di Jalan Petogogan I No. 28B, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, terdiri dari 3 lantai. Tempatnya terbilang kecil, namun sangat nyaman dan sudah membuat saya betah, terlebih, ya, itu tadi, ke mana mata memandang, yang saya temui segala hal yang asyik. Belum lagi kalau sudah tercium aroma jamu, duh, cukup menenangkan karena saya menyukai jamu.

“Tapi apa hanya jamu yang dijual? Terus, apa asyiknya kita nongkrong di situ kalau cuma jualan jamu? Kan, kita pengin menikmati makanan dan minuman lain juga, harus pesan ke mana?”

Tenang, meski namanya Suwe Ora Jamu, selain aneka varian jamu, kedai ini juga menjual beragam makanan dan minuman berupa nasi, sayur, ikan, ayam, tempe, tahu, roti, kentang, wedang, teh, kopi, dan lain-lain, laiknya rumah makan kebanyakan. Malah kini ada paket LIWETAN, berupa nasi liwet komplit, yang kami cicipi saat buka puasa bersama. Dan kalau mau pesan nasi liwet, paling telat sudah pesan tiga hari sebelumnya, sekalian reservasi tempat juga.

Masih bimbang dan ragu untuk kongkow di sini? Buanglah bimbang dan ragumu jauh-jauh. Seddaaaaaappp… Hehehe…

[Kok, jadi panjang, sih? Katanya mau singkat aja? Nggak konsisten dengan janji lo, ah, Prast! Hihi]

 

Buka Puasa Bersama ‘Liwetan’ Suwe Ora Jamu

Saya pun tiba di ruang paling belakang lantai 1 Suwe Ora Jamu dengan Mbak Terry sebagai guide-nya. Diperkenalkanlah saya dengan Mbak Nova pemilik kedai, Mbak Popie salah satu pejabat teras Suwe Ora Jamu (((((PEJABAT-TERAS))))) yang sedang menyusun ‘Liwetan’ kami di atas meja beralaskan daun pisang dibantu seorang karyawannya, serta terlihat juga Mumun dan Cibo yang mungkin sedang ngegerecokin mbak-mbaknya menyusun liwetan tersebut. Sedangkan Mbak Terry sibuk menyambut dan memperkenalkan para tamu bagi yang belum saling kenal. Beberapa di antara mereka sudah lama saya kenal, beberapa lagi pernah berjumpa namun belum kenal banget, beberapa tahu dari media sosial tetapi belum pernah bertemu, dan beberapa lagi baru pertama kali tahu, jumpa dan kenal.

Sambil menunggu susunan liwetan rapi dan adzan magrib, mereka pun melakukan aksi yang merupakan bagian dari ladang nafkahnya yaitu foto-foto dan mem-video-kan makanan yang tersaji, juga wefie-an, untuk dipublikasikan di media sosial masing-masing, serta ditulis di blog mereka. Senang menyaksikan mereka bekerja, penuh semangat dan keseruan. Tak lupa, Paman Gery membagi tutorial cara berswafoto yang baik dan benar. Ini kocak banget, bikin ngakak, dan kami pun ber-“Oooooohh…???”

Selain nasi liwet komplit, tersedia juga sayur asem, infused water, cinammon citrus, wedang ronde, dan semangka iris-iris dalam gelas dengan lime, yang juga menunggu adzan magrib agar mereka segera disantap oleh kami. Terdengarlah kumandang adzan magrib, kami pun batalkan puasa kami hari itu. Apa pun yang kami santap, rasanya uenaaaaaakk tenaaaaaan! Nagih! Kami kenyang, lalu melanjutkan aktivitas lain. Ada yang salat magrib di lantai 3, ada yang ngudut (merokok), ada yang kembali sibuk dengan pekerjaannya sebagai blogger, dan ada yang pamitan duluan. Yang paling pertama pulang karena jadwal berikutnya menanti adalah Uda Val.

Suasana santai, kami lalu mengisinya dengan mengobrol, bercanda, ketawa ketiwi, seru-seruan, deh, pokoknya penuh keakraban. Saya, Suci, dan Mbak Nunik sibuk mendengarkan kisah dari sang pendongeng kondang, Paman Gery, atas todongan Mbak Nunik kepada Paman, “Ayo, dong, paman, ceritain tentang dongeng!” paksa Mbak Nunik. “Aduh, jangan, dong! Aku malu.” canda Paman Gery. Akhirnya, obrolan intensif selama 1 jam tentang dongeng yang melebar ke mana-mana, tak henti kami dengar. Jadi malah diskusi di antara kami berempat, sih, karena tidak hanya paman yang berbicara. Ilmu dan wawasan baru banyak kami dapat dari paman, yang menurut kami obrolannya masih kurang panjang saking khidmatnya. Semua yang kami obrolkan tersimpan rapi di kepala saya, dan tidak akan saya tuangkan di sini. Saya berencana akan menuangkannya dalam cerita di blog saya berikutnya. Saya kagum dengan sosok Paman Gery yang baru kali pertama saya jumpai. Diskusi pun berlanjut di media soial seperti instagram, twitter, dan facebook. Terima kasih, Paman Gery, atas kesempatannya mengisi otak dan hati saya ini dengan hal-hal bermanfaat lewat persuaan yang singkat. *angkat topi untuk Paman Gery*

Di sudut lain, terlihat seorang Bolang yang asyik mendokumentasikan segala yang ada di kedai ini sebelum pamit pulang duluan juga. Mbak Dian Purnomo sibuk meminta akun instagram semua teman yang hadir. Tak kalah Mumun dan Cibo dengan asyiknya menikmati pekerjaan mereka dengan bermain video sesuai kebiasaan mereka. Kagum saya dengan cara kerja para travel blogger yang pernah saya jumpai. Kali pertama saya bepergian dengan travel blogger andal yang sebelumnya tidak saya kenal saat melakukan perjalanan enam hari ke Bali bersama keluarga JEJAK MAHAKARYA 2016. Di situ saya terperangah melihat cara kerja mereka. Lalu saat saya diundang acara iDiscover di pelabuhan Sunda Kelapa dan Kota Tua, berdecak kagum lagi dibuatnya. Dan malam itu di Suwe Ora Jamu, kembali mereka membuat saya melongo. Mumun dan Cibo asyik ngomong sendiri dengan kameranya sambil memainkan jari-jemarinya. Adito asyik dengan jeprat-jepret serta insta story-nya. Anye lebih banyak menjadi narasumber, secara yaaaaa… ia seorang Putri Indonesia dan host andal acara ‘Mata Pancing’ MNC TV. Dan Dessy sebagai makeup artist sibuk ditodong untuk mendandani mereka, namun entah kapan. Seru banget, deh! Akhirnya waktu selalu menjadi pemisah. Kami pun pamit satu per satu. Ojek online masing-masing sudah di depan kedai, dan hanya menyisakan saya, Mbak Popie, Mbak Terry serta Dessy, yang pulang terakhir lebih dari jam 10 malam.

18920975_1226160527494349_1918204402948239210_oIMG-20170609-WA0012

Apa yang saya dapat sepulang dari Suwe Ora Jamu? Ada dua hal penting!

Pertama, keluarga baru [lagi] yang sangat membahagiakan saya, berisi orang-orang baik, asyik, dan seru. Meminjam kalimat Anye di grup WhatsApp, keluarga ini menghadirkan, “ENERGI POSITIF YANG LUARBIASA.”

Kedua, pastinya kini saya punya tempat tongkrongan baru yang sangat representatif (ini artinya apa, toh? Hahahaha). Iya, tempat makan-minum dan bergaul yang menyenangkan bernama SUWE ORA JAMU. Nggak percaya? Datang, deh, dijamin betah.

::::::::::::::::::::

Penulis: Prast Lampard
Foto: Prast (@Prast_Lampard), Suwe Ora Jamu (@suweorajamu28), Terry (@NegeriID), Bolang Sutiknyo (@Lostpacker), Popie (@popiepop), Suci (@tembangraras), Val (@harivalhayuka), Adito (@Adiitoo), Paman Gery (@Paman_Gery), IndoPress, Tria Nuragustina & Valentina Limbong (Femina), Tabloid Kontan, Wanderbites, The Gastronomy Aficionado, Istimewa

Kebun Pala Negeri Lonthoir, Kepulauan Banda, Maluku Tengah

Tulisan ini hanya berdasarkan pada perjalanan yang saya lakukan di Negeri Lonthoir, informasinya juga yang saya terima saat berada di sana dan bukan mengambil dari media apapun, jadi yang saya sadurkan tidak sedetail tulisan atau artikel lain tentang tempat ini.

kebun-pala-3-foto-nuri-fajriati

 Negeri Lonthoir, Kepulauan Banda, Maluku Tengah, 21 November 2014:

           Warga Kepulauan Banda, Maluku Tengah, menyebut “Desa” dengan nama “Negeri”, dan Negeri Lonthoir ini terletak di Pulau Banda Besar yang dapat ditempuh hanya 20 menit menggunakan perahu dari Banda Neira. Di sinilah terdapat perkebunan pala terbesar di Kepulauan Banda. Begitu menjejakkan kaki di dermaga lalu masuk ke dalamnya, saya tidak langsung bertemu dengan perkebunan pala, tapi masih harus melewati perkampungan warga dan menaiki sekitar 360 anak tangga.

           Selama melewati perkampungan, saya tidak hanya diperlihatkan pada rumah-rumah warga, tapi ada juga tempat-tempat yang memiliki cerita unik. Salah satunya adalah Parigi Lonthoir, sumur kembar yang sangat istimewa dan satu-satunya sumber air di sana. Sumur ini, satu khusus untuk minum karena berupa mata air dan tidak perlu dimasak lagi, sedangkan satu lagi untuk mandi, mencuci, dan semua kebutuhan rumah tangga karena buatan warga Lonthoir. Meski dinding sumur ditumbuhi banyak lumut, tapi airnya sangat jernih, dingin dan rasanya segar.

            Menurut cerita seorang warga Lonthoir kepada saya, awal ditemukannya sumur ini bermula dari seorang nenek yang melihat seekor kucing basah kuyup, padahal di Lonthoir sama sekali tidak ada sumber air. Akhirnya sang nenek menelusuri asal tempat kucing tersebut kebasahan, ditemukanlah sumber mata air yang kini menjadi Parigi Lonthoir. Dan hingga saat ini, tidak ada sumber air lain di Lonthoir kecuali Parigi Lonthoir tersebut. Jadi, warganya harus rela mengambil air di tempat ini sekali pun jaraknya jauh. Para warga sudah berusaha memasang pompa air di rumah masing-masing, tapi setelah semua terpasang, air tidak keluar sama sekali. Mereka meyakini bahwa ini terkait dengan hal-hal supranatural pada sumur yang ada di desanya tersebut. Bahkan beberapa teman wanita yang mengunjungi tempat ini bersama saya, dilarang menaiki bibir sumur dengan pakaian terbuka. Kata mereka sumur ini suci.

            Sumur ini dicuci setiap 10 tahun sekali. Prosesi pencucian sumur dipimpin oleh Mama Lima, wanita pemuka adat yang akan memasukkan Kain Gajah, berupa kain putih sepanjang 99 meter. Kain dimasukkan ke dalam sumur, air sumur pun akan terserap oleh kain hingga sumur kering. Kemudian kain gajah ini akan digotong oleh para wanita ke pantai untuk dicuci beramai-ramai hingga bersih. Saat kain tersebut sudah bersih, sumur pun mendadak akan terisi kembali. Boleh percaya atau tidak, itulah yang terjadi.

            Saat prosesi pencucian sumur ini, seluruh warga Lonthoir yang sedang berada di luar desa wajib pulang, termasuk yang berada di pulau Jawa atau luar negeri sekali pun. Saat tanggal pencucian sumur telah ditentukan, sekitar satu atau dua bulan sebelumnya mereka akan diberi kabar supaya pulang. Ketika saya tanya kenapa, mereka hanya menjawab bahwa syaratnya seperti itu, harus lengkap semua warganya berkumpul agar prosesi pencucian sumur ini berjalan lancar.

            Perjalanan saya lanjutkan kembali, pastinya semakin menanjak dan harus melewati tempat pemakaman umum. Tibalah saya di perkebunan pala terbesar di Kepulauan Banda yang buahnya memiliki kualitas nomor satu di dunia. Negara-negara Eropa pun membeli pala dari tempat ini. Kagum saya dibuatnya melihat pohon-pohon besar nan hijau menyejukkan mata. Kenari, pala dan kayumanis membuat saya semakin bersyukur bahwa Indonesia ini subur dan kaya. Benar yang Koes Plus nyanyikan dalam lagunya, “Orang bilang tanah kita tanah surga… Tongkat kayu dan batu jadi tanaman…”

            Bayangkan, pak Effendi salah seorang pemilik kebun bercerita bahwa untuk pala saja, beliau menerima Rp 140.000 dari setiap kilogram pala yang dijual, dan panen pala itu tidak ada musimnya, tidak ada habisnya. Satu pohon bisa panen sampai tiga kali dalam setahun, beliau memiliki sekitar 150 pohon pala. Saat pala yang sudah tua dipanen, tidak lama lagi pala yang muda akan menua dan dipanen lagi, begitulah seterusnya. Beliau bilang bahwa jika diberlakukan perdagangan bebas, pihak Eropa akan membeli langsung buah pala dari para petani tanpa lewat perantara, para petani akan menerima bayaran sebesar Rp 400.000 untuk tiap kilogram pala. Tapi mendapatkan Rp 140.000 per-kilogram saja, menurut beliau sudah sangat besar, menguntungkan dan bersyukur.

            Sayangnya, daerah-daerah lain di Indonesia seperti Jakarta, tidak berani membeli pala paling berkualitas dari Banda karena dianggap mahal. Pala yang diperjualbelikan di Pulau Jawa adalah pala berkualitas rendah dari Sorong, Papua, yang sangat murah. Mungkin demi pertimbangan bisnis agar bisa menjual makanan yang mengandung pala dengan harga terjangkau.

            Pak Effendi juga bercerita, perkebunan pala mereka sempat akan dibeli oleh pemborong sebuah proyek pembangunan bandara, untuk tiap meter perseginya dihargai Rp 2.000.000. Tapi karena pertimbangan masa depan anak cucu mereka, warga Lonthoir menolak tawaran itu. Bagi mereka, uang bisa cepat habis, sementara warisan berupa perkebunan ini akan abadi dan bisa menghidupi keturunan mereka hingga akhir zaman. Untuk bandara, cukup yang berada di Banda Neira saja kata mereka. Toh, aktivitas penerbangan juga tidak sepadat daerah lain, jadi tidak perlu bandara baru.

            Di perkebunan pala itu saya pun melakukan aktivitas yang menyenangkan seperti belajar memetik pala dan mengupasnya, serta mencicipi kulit pohon kayumanis yang rasanya enak. Keluar dari perkebunan saya menuju ke Benteng Belanda, dari sinilah keindahan kolaborasi antara Gunung Api, laut Banda dan Lonthoir terlihat jelas. Dari Benteng Belanda yang letaknya tinggi inilah menjadi surganya para fotografer untuk mengabadikan keindahan tersebut.

Mengakhiri kunjungan di Lonthoir, kembali saya melewati perkampungan dan menemukan di depan setiap rumah ada pala atau kenari yang sedang dijemur. Saya juga mendapati para ibu yang sedang memecah buah pala dan kenari, lalu saya mampir untuk ikut melakukan aktivitas mereka. Kalau mau membeli pala dan kenari langsung dari mereka juga bisa. Banyak pula anak-anak yang senang melihat kehadiran kami di desa mereka. Mereka memanggil kami “Mister” dan seorang teman saya yang wanita dipanggilnya “Turis Vietnam”. Hahahaha.. Lucu sekali mereka.

Menjelang pintu keluar Lonthoir, saya mampir di rumah pak Usman yang dijadikan warung kopi. Saya melepas dahaga dengan menikmati dua jenis minuman yaitu Es Teh Kayumanis dan Kopi Biji Pala. Ah, nikmatnya!

Sangat seru dan menyenangkan. Tak akan terlupakan. Saya yakin, suatu hari nanti saya akan kembali bercengkrama denganmu, Lonthoir. InsyaAllah.

 

Penulis: Prast
Foto: Prast, Uwi, Danny Ramadhan

Testimoni Saya untuk Keluarga #JejakMahakarya 2016

Bukan cerita tentang perjalanan setiap destinasi yang saya kunjungi bersama Tim #JejakMahakarya 2016 di Surabaya-Bali, 15-20 Agustus 2016 lalu, tetapi hanya sebuah testimoni tentang mereka, keluarga seperjalanan saya yang orang-orangnya sangat baik, asyik, seru, rame, menyenangkan, dan ngangenin.

balgab

Tidak ada catatan tertulis dan rekaman audio maupun video dari saya untuk menuangkan tulisan ini, tetapi semua hanya terekam di kepala saya, dalam ingatan saya, meskipun perjalanan ini sudah tiga bulan berlalu.

  1. Putu Fajar Arcana

_dsc5158

Beliau biasa disapa dengan nama Bli Can. Awal persuaan saya dengan beliau terjadi di Swiss-Belhotel Kemang saat workshop JEJAK MAHAKARYA 2016 ini. Ketika itu hanya kenalan, ngobrol sedikit, dan menyaksikan beliau berbicara di depan ratusan peserta JEJAK MAHAKARYA 2016 memperkenalkan Bali. Iya, ratusan peserta termasuk di luar tim saya yang hanya 18 orang, dan berangkatnya terpisah.

Yang saya tahu Bli Can ini seorang jurnalis senior Kompas, penulis buku, sastrawan (koreksi saya jika saya salah, red), dan beliau sudah terlibat di beberapa JEJAK MAHAKARYA sebelumnya. Karena beliau orang Bali, saya pun mengira beliau yang juga dari ARCANA FOUNDATION akan menjadi guide kami. Tampangnya serius, dan karena belum kenal banget, saya pikir orangnya serius terus. Akhirnya, dalam perjalanan kami, sedikit demi sedikit mulai terbuka ‘kebocoran’ Bli Can ini. Banyak canda tawa beliau hadirkan, jokes garing pun keluar dari lisannya, tetapi banyak juga ilmu dan wawasan tentang Bali yang baru saya ketahui dari beliau di sela-sela obrolan ringan nan santai.

Puncak ‘bocornya’ Bli Can terjadi saat kami rafting. Dengan perahu yang berbeda, kami melihat sosok Bli Can yang berbeda, yang tak biasa kami lihat. Beliau ‘menggila’ dengan aksi-aksi kocak, seru, cuek, tanpa malu, terutama saat perahunya nyangkut di batu. Teman-teman yang seperahu dengan saya pun kaget dan berujar, “Ya ampun, gue nggak nyangka, deh, Bli Can kayak gitu? Seru banget, sih, orangnya. Gue kira orangnya serius, lho, dia? Hahahaha… Terus Bli, terus Bli, terus Bli…” seorang kawan di perahu saya menyemangati.

Sejak itu, saya pun mengenal Bli Can lebih jauh lagi. Beliau asyik, seru, menyenangkan, dan saya pun tidak malu-malu untuk bercanda atau mengeluarkan jokes yang kriuk-kriuk. Dan banyak dari kami yang baru tahu saat di Bali bahwa beliau ini orang yang sangat populer dan berpengaruh di Bali, terutama di kalangan seniman, budayawan, dan jurnalis. Sampai hari ini, jika ada pertanyaan seputar Bali, budaya, sastra, seni, atau apapun yang saya anggap beliaulah pemegang kunci jawabannya, saya masih suka bertanya ke beliau via grup WhatsApp. Nice to know you, Bli Can. Matur suksma for everything.

  1. Joan Arcana

_dsc5300

Istri dari Bli Can, kami biasa memanggilnya Mbak Joan. Beliau dari ARCANA FOUNDATION. Sama seperti Bli Can, saya berkenalan di Swiss-Belhotel Kemang, tetapi tidak ngobrol sama sekali, karena beliau dan Bli Can sibuk membicarakan itinerary bersama Tim Imogen PR dan Tim HM Sampoerna. Dan dari informasi yang saya dapat, sebenarnya beliau tidak masuk dalam rombongan JEJAK MAHAKARYA 2016, namun membantu Bli Can mengatur perjalanan di Bali. Dan pada praktiknya, WOOOOWW… untuk kami, Mbak Joan ini menjadi ‘ibunya anak-anak’ selama di Bali.

Selama pengalaman saya traveling (yang belum banyak destinasi saya jelajahi), Mbak Joan ini orang kedua yang saya kenal menjadi ‘ibunya anak-anak’ setelah Mbak Terry dari ‘Negeri {Kita} Sendiri’. Di Bali, saya melihat beliau orang yang perfeksionis, tidak bisa diam, sigap, melayani kami dengan sangat baik, pokoknya JUARA, lah! Beliau akan memastikan segala kebutuhan terpenuhi, aman, tidak kekurangan, tidak terlambat, tidak menyengsarakan peserta. Ya soal makanan, minuman, penginapan, camilan, kendaraan, dan lain-lain. Beliau akan memastikan dengan langsung bertanya ke setiap peserta, “kamu udah dapat minum?”, “Mau nambah makanan apa lagi? Saya pesenin.”, “Aqua-nya di bus cukup, nggak?”, “Jangan lupa biskuitnya dibawa, ya!” dan seterusnya. Bahkan beliau ikut membereskan piring, gelas, membuang makanan yang tersisa di piring ke tempat sampah bekas makan kami saat makan malam di Sanggar Paripurna, Bona, Gianyar, pimpinan I Made Sidia, sebelum kami menyaksikan pementasan Wayang Listrik. Sampai Bli-bli yang ada di sana bilang, “Lho, udah, Mbok, udah ada yang membereskan, ndak usah.” tetapi Mbak Joan tetap asyik membereskan piring-piring. Saya takjub melihat kejadian tersebut.

Yang tak akan terlupakan, sih, saat beliau menawarkan kami untuk membawa oleh-oleh Pie Susu Asli, yang hanya bisa didapat dari pabriknya, beliau rela antre dari pagi untuk mendapatkan pesanan kami, sementara kami asyik jalan-jalan. Dan pesanannya banyak pula dari para peserta. Siapa yang pesanannya paling banyak? Tentunya saya, untuk ‘upeti’ beberapa orang di Jakarta. Hahaha.. :p Dan Mbak Joan tidak mengambil keuntungan serupiah pun seperti pedagang, tetapi benar-benar hanya membelikan titipan kami. Beliau menalangi pakai uang beliau, baru kami ganti setelah Pie Susu Asli kami terima malam harinya di hotel.

Jika belum kenal, mungkin kita akan menganggap beliau jutek. Pas sudah kenal, ternyata kami sangat membutuhkan beliau. Kecerewetannya demi kebaikan kami. Di akhir perjalanan JEJAK MAHAKARYA 2016, beliau memeluk kami satu per satu. Terima kasih, Mbak Joan. Saya (dan mungkin teman-teman lain) kangen dicerewetin lagi olehmu, kangen bertemu lagi denganmu, kangen seperjalanan lagi bersamamu, pokoknya kangen. We love you.

  1. Driana Rini Handayani

_dsc5159

Terkenal dengan nama Simbok Venus. Lebih dulu kenal beliau lewat media sosial, Tuhan pun mempertemukan kami. Siapa, sih, yang tidak kenal blogger yang satu ini? Dalam JEJAK MAHAKARYA 2016 ini, beliau salah satu juri untuk kompetisi blog. Sudah asyik bercanda ketawa ketiwi sejak di McD depan Swiss-Belhotel Kemang, sambil menunggu giliran workshop yang katanya jam 1 siang, ternyata jatah kami jam 3 sore. Dengan logat Jawa yang masih terdengar cukup kental, dalam perjalanan Surabaya-Bali, beliau ini sosok yang kalem dan sangat dewasa. Lebih banyak motret dan bertanya kepada narasumber sesuai kebutuhan bahan tulisannya nanti. Saya bertemu dengan sosok seorang kakak dalam diri ibu yang satu ini. Ngemong adik-adiknya, apalagi kalau Dolly dan Rere sudah ‘berantem’, beliau paling bertanggung jawab melerai karena beliau yang membawa dua orang itu. Hahaha..

Senang banget bisa menjadi bagian dari pertemanan dengan Simbok Venus. Orangnya baik, tak jarang jutek juga (di media sosial), asyik diajak ngobrol, menyenangkan, ngangenin, tetapi kalau saya sudah menyanyikan lagu-lagu lawas seperti Koes Plus misalnya, beliau langsung bereaksi, “Yaoloooo.. Prast, kok, lagumu tua banget, sih?” Hahahahaha.. Maaf, Simbok.

Pengaruh nama besar Simbok Venus di media sosial juga terasa buat saya. Followers saya di twitter bertambah signifikan ketika beliau re-tweet foto-foto JEJAK MAHAKARYA yang saya share di twitter. Yang nge-LIKE foto saya di facebook jika saya tag Simbok juga banyak, bahkan ada yang invite pertemanan dengan mutual friend-nya Simbok, pokoknya gitu, deh.

Simbok, matur sembah suwun, nggih. Ajak saya kumpul-kumpul lagi, traveling lagi, teruslah menularkan ilmu-ilmu ngeblog lagi, jangan berhenti menginspirasi lewat tulisanmu di blog dan postinganmu di media sosial, terutama untuk menguruskan badan karena perutku makin buncit, pokoknya bahagia bisa berteman denganmu, Mbok.

  1. R.A. Terry Ella Sagitariyani Endropoetro

_dsc5161

13 tahun kenal beliau, sejak saya masih bekerja di sebuah Perusahaan Pra Cetak di Kawasan Industri Pulogadung, beliau suka datang untuk supervisi layout majalah, terutama covernya, hingga akhirnya saya seatap berkantor bareng beliau di sebuah grup penerbitan majalah di Kuningan, Jakarta Selatan.

Beliau juga salah satu juri kompetisi micro-blog untuk JEJAK MAHAKARYA 2016 ini. Luar-dalam beliau saya sudah banyak tahu. Beliau dan suaminya sudah menjadi kakak bagi saya, anaknya keponakan bagi saya, bahkan saya pun berkesempatan mengenal Ayah-Ibu beliau dan berasa menjadi anaknya juga. Beliau ini tempat curhat bagi saya, termasuk hal-hal pribadi yang tidak saya umbar ke sembarang orang, apalagi beliau sangat perhatian terhadap saya, (almarhumah) ibu saya saat stroke, adik saya, dan keluarga saya keseluruhan. Beliau sering memberi nasihat yang menenangkan. Pun sebaliknya, kadang beliau juga curhat ke saya masalah yang pribadi. Kadang saling pinjam-pinjaman uang juga kalo kepepet. Hahahaha..

Iya, beliau ini sudah bukan orang lain lagi bagi saya, tetapi keluarga. Suatu kehormatan bagi saya saat beliau minta diajarkan atau ‘kursus’ bermain twitter dan instagram di awal keterlibatannya dengan kedua media sosial tersebut, bahkan sampai hari ini jika ada yang tidak dimengerti tentang media sosial, larinya pasti ke saya. Sekarang, siapa yang tidak kenal akun twitter @NegeriID dan instagram @negerikitasendiri yang hits dengan followers bejibun. Kini, saya malah banyak belajar cara bermedia sosial dari beliau.

Beliau dan suaminya pulalah yang meracuni saya untuk traveling mengenal Indonesia, meski saya tidak pede dan belum pantas disebut sebagai traveler karena masih sedikit sekali tempat yang pernah saya sambangi, tidak ada setengahnya dari tempat yang pernah beliau jelajahi. Setiap perjalanan, beliau ini ‘ibunya anak-anak’ sama seperti Mbak Joan. Beliau akan menjadi orang yang paling sibuk, perhatian, sabar, meski sering juga menahan emosi jika bertemu peserta yang ngeselin. Karena beliau juga, saya bisa punya teman sangat banyak, karena setiap traveling dengan beliau pasti tidak akan putus pertemanan usai traveling, tetapi lanjut setelahnya, baik di kehidupan nyata maupun lewat media sosial. Kalau bukan karena beliau, saya tidak mengenal Belitong, Pulau Komodo Flores, Banda Neira Maluku Tengah, Kepulauan Seribu, Cilacap, Nusa Kambangan, Semarang, dan lain-lain.

Makanya, karena saya orang yang sebenaranya pemalu (serius, sebenarnya saya ini pemalu dan pendiam :p), jadi selama perjalanan JEJAK MAHAKARYA 2016 saya selalu nempel terus dengan beliau yang sudah lama saya kenal. Iya, karena pemalu itu tadi, jadi masih kaku untuk beradaptasi dengan teman-teman baru yang lain. Hahahaha..

Ah, Mbak Terry, sudahlah tak banyak yang perlu diceritakan lagi tentangmu, yang pasti aku sayang kamu selamanya, Mbak.

  1. Barry Kusuma

_dsc5298

Nah, ini, nih, yang di luar dugaan saya banget! Salah satu fotografer terkenal di Indonesia ini adalah juri kompetisi foto JEJAK MAHAKARYA 2016. Saya kira usianya jauh di atas saya, apalagi jika melihat foto-foto beliau di twitter atau facebook diundang oleh televisi, sebuah instansi, mengisi workshop, atau gathering sebuah organisasi, penampilannya sangat serius dan dewasa. Ternyata pas kenal, usianya 2 tahun di bawah saya, dan orangnya rame, seru, iseng, berisik, asyik, menyenangkan, serta rendah hati. Saya tahu dari adik saya yang cowok seorang fotografer juga, katanya, “Barry, mah, seangkatan gue dia, masih muda itu orang, belom tua.” Pas di Bali saya ceritakan semua ini ke beliau, sambil bercanda beliau bilang, “Wah, berarti pinter, ye, gue menyamarkan umur selama ini? Hahaha..” gitu doang.

Saya ingat pertama kali berkomunikasi dengan beliau saat majalah Reader’s Digest Indonesia membuat sesi tanya jawab dengan beliau via twitter dengan tema fotografi traveling, saya menjadi salah satu penanya. Setelah itu pernah juga saya share di facebook sebuah artikel tentang traveling yang intinya menyudutkan para traveler atau travel writer yang dianggap hanya mencari uang, mencari keuntungan dengan membagi cerita-cerita indah saja tentang Indonesia, sementara banyak daerah wisata yang kumuh, terbelakang, kekurangan dan sejenisnya, tidak diekspos oleh mereka. Karena saya tidak paham masalah ini, saat itu saya share ke banyak travel writer dan fotografer traveling untuk tahu tanggapannya, dan Barry Kusuma membuat artikel khusus untuk menanggapi artikel ‘serangan’ tersebut di laman facebook-nya. Saya pun menjadi mengerti.

Terkait JEJAK MAHAKARYA 2016, takjub juga mengetahui beliau membawa tas besar-besar yang isinya hanya untuk keperluan dokumentasi seperti kamera foto, drone, dan perlengkapan lainnya, ditambah tas berisi pakaian. Saat motret tarian di Sanggar Paripurna, Bona, Gianyar, saya duduk di sebelah beliau, takjub lagi karena berjajar tiga kamera di mejanya. Dari situ saya bergumam dalam hati, “Pantes foto-fotonya keren, ciamik, juara, lah wong bawaan kameranya aja kayak gini banyaknya. Gokil!” Tapi memang seperti itu, sih, yang seharusnya dilakukan seorang Barry Kusuma karena tuntutan profesi demi hasil terbaik. Nah, sedikit-sedikit saat saya dekat beliau di mana pun ketika di Bali, saya berusaha menyontek cara beliau motret, terutama angle-nya, oooooh… gitu, ya? Meski hasil foto saya tetap jauh di bawah jepretan beliau, sih.

Buat saya, sebuah keberuntungan yang sangat besar bisa mengenal Barry Kusuma, seorang guru, inspirator, dan teman yang ajiiiiiiibb… J
Terima kasih, Bung!

  1. Deborah Sondang Napita Samosir

_dsc5192

Ola, kami memanggilnya. Ia dari Imogen PR, agensi yang mengurus perjalanan JEJAK MAHAKARYA 2016 [koreksi saya jika saya salah, red]. Di Swiss-Belhotel Kemang sebelum workshop, ia-lah yang pertama kali menemui saya dan Mbak Terry karena teman-teman lain belum datang. Ia pun langsung mengajak kami makan di sebuah restoran tergolong mewah dan mahal di depan Swiss-Belhotel. Kata Mbak Terry, “Waduh, makan di situ mahal, aku nggak punya duit, La. Kita makan ketoprak aja, tuh, yang ada di luarnya, murah, enak lagi!” Ola pun langsung membalas, “Tenang aja, Mbak, aku yang bayarin, aku traktir, kan, pake uang HMS.” canda Ola. Kami masuk ke restoran tersebut, namun apa daya AC-nya mati, kami pun tak tahan berada di sana meski baru duduk 2 menit. Keluarlah kami, dan akhirnya, ya, di McD juga makannya. Hahahaha..

Saat itu Ola baru pulang beribadah dari gereja. Sosok mungil, imut, berkacamata minus ini pun langsung membawa saya ke penilaian bahwa anak ini baik, namun serius banget. Menunggu hari H tiba, ia pun membentuk grup WhatsApp ‘Mahakarya Goes to Bali’, dan dari grup itu mulai terlihat pesan-pesan yang dibagi, karakter orang-orangnya seperti apa. Cukup banyak candaan dari Ola, hingga tibalah perjalanan ke Surabaya-Bali. Ola menjadi salah satu orang yang sibuk dan sangat serius mengurus kami. Seiring waktu, saat di Bali mulai terlihat tingkah Ola yang tidak saya sangka sebelumnya. Ia pecicilan, banyak gaya aneh saat dipotret, banci kamera juga, bawel, seru, kocak, ceria, cuek dan menyenangkan. Ternyata anaknya tidak serius-serius amat. Hahaha..

Ia sangat berdedikasi dan bertanggung jawab akan tugas yang diembannya. Segala sesuatu dikerjakan dengan detail, bahkan ia tidak mau kami kekurangan atas apa yang kami butuhkan. Kalau sudah terlihat lelah, keluar juga, sih, tampang juteknya.

Senang bisa kenal dan berteman dengan Ola. Terima kasih telah berlelah-lelah ‘mengasuh’ kami sejak pra-acara, acara, hingga pasca-acara JEJAK MAHAKARYA 2016. Ola JUARA!

  1. Irientha Amanda Putri

_dsc5196

Manda, partner Ola di Imogen PR. Komunikasi pertama dengan kami langsung di grup WhatsApp karena ia tidak bisa datang ke workshop di Swiss-Belhotel. Pertemuan langsung di Bandara Soekarno-Hatta untuk penerbangan ke Surabaya. Sama seperti Ola, ia juga memiliki dedikasi dan tanggung jawab tinggi akan pekerjaannya di JEJAK MAHAKARYA 2016 ini. Paling terlihat ketika ia tidak bisa ikut rombongan ke RUMAH DESA, Marga, Tabanan, pada hari Rabu, 17 Agustus 2016, karena harus menjemput seorang peserta,  rekan jurnalis dari Jawa Pos, Glandy Burnama, di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Manda pun tidak bisa ikut aktivitas dan lomba memasak di RUMAH DESA karena baru bergabung menjelang makan siang menikmati masakan para peserta lomba masak. Tapi Manda ikut dicoret-coret wajahnya oleh Mbak Joan untuk sesi foto bersama merayakan HUT RI ke-71 di RUMAH DESA.

Wanita muda dengan postur tubuh tinggi ini orang yang baik, ceriwis, seru, tapi terlihat anaknya moody, sih. Tak jarang keluar sifat kekanak-kanakannya, terutama saat di kapal “Bali Hai II” sepulang dari Nusa Lembongan menuju Bali Hai Cruises di Pelabuhan Benoa. Kapal yang goyang banget akibat gelombang besar, membuat Manda ketakutan luar biasa laiknya anak kecil, pucat, teriak-teriak mau nangis, tidak bisa diam, dan berpegangan sangat kencang. Saya tahu karena duduk di sebelahnya. Padahal untuk kebanyakan orang, kapal dengan kondisi seperti itu masih biasa saja, tidak berbahaya. Hanya, Manda memang takut naik kapal. Saya ingat, Manda bilang, “Tuh, kan, aku takutnya gini, nih, kalo naik kapal. Serem banget, pusing tauuuuu! Mendingan naik pesawat, deh!” Menjelang pelabuhan, gelombang sudah tenang, ibunya Manda nelpon, dan Manda mengadu dengan manja atas apa yang terjadi di kapal. Hehehehe..

Terima kasih juga untuk Manda telah mengurus kami. Kami tunggu undangan pernikahannya, semoga waktunya tepat hingga kami semua bisa hadir, dan kita bisa reunian di resepsi pernikahan Manda. InsyaAllah.

  1. Febi Inas Anisah

_dsc5193

Pertama melihat di Swiss-Belhotel sudah terlihat ia orang yang menyenangkan. Senyum tersungging tidak pernah lepas dari bibirnya saat menyapa dan ngobrol dengan lawan bicaranya, ditambah lesung pipitnya menjadi pemanis. Febi boleh dibilang yang punya hajat JEJAK MAHAKARYA 2016 ini, si super sibuk juga, deh. Anak ini rame, pecicilan, ceria, seru banget deh. Sepertinya ia dan Manda yang paling muda di antara kami. Ia mudah akrab dengan teman baru, istilahnya supel.

Ia rame serame-ramenya, berisik, tidak bisa diam, dan ketakutan, tuh, saat rafting. Sudah tidak peduli banyak orang, sepertinya aslinya Febi, ya, saat rafting itu, semua sifatnya keluar. Cuek banget! Ia pun menjadi sasaran empuk saat ‘perang’ di Sungai Ayung, bahkan jadi sasaran tembak rekan-rekannya sendiri. Ia dengan masa bodonya membandingkan berat badannya yang dulu dengan sekarang saat rafting, dan saat harus mendaki banyak anak tangga usai rafting.

Sampai selesai perjalanan JEJAK MAHAKARYA 2016, ketika sudah tiba lagi di Bandara Soekarno-Hatta, keceriaan Febi tidak hilang. Sepertinya anak ini memiliki mood atau bisa menjaga mood-nya bagus terus. Nice, Feb! Pertahankan itu karena bisa menularkan energi positif juga buat orang lain yang melihatnya. Terima kasih Febi telah melibatkan kami dalam perjalanan JUARA ini.

  1. Fachrozi

_dsc5281

“Bodo amaaaaaaatttt…”

Kalimat itu yang sering terlontar dari videografer ini saat bercanda dengan rekan-rekan seperjalanan di JEJAK MAHAKARYA 2016. Itulah kalimat andalannya. Lelaki berperawakan besar ini awalnya terlihat seorang pendiam, nyatanya rameeeeeeee… 🙂 Ozi pun tak sungkan menceritakan apa saja terkait nasihat ibundanya, motornya, dan kisah kematian penyanyi Alda Risma saat ia masih menjadi juru kamera sebuah televisi.

Video-video hasil bidikannya pun bagus-bagus. Bisa dinikmati di akun instagramnya @with_oz. Kalau sudah kerja, serius banget. SERSAN, sih, SERius tapi SANtai. Ia juga lebih sering menjadi fotografer saat kami foto keluarga di Bali. Tidak banyak yang bisa diceritakan dari sosok nan religius ini. Yang pasti, lo temen yang asyik, Zi! Terima kasih sudah menerima saya menjadi teman.

  1. Mochamad Zacky Yamani Soemampouw

_dsc5282

Zacky, seorang travel blogger, perwakilan dari TRAVELLER KASKUS. Bertemu di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, saya langsung terperangah karena wajah & postur tubuhnya mirip banget adik sepupu saya seorang desainer grafis, fotografer, dan wirausahawan digital printing juga. Sudah ketahuan, nih, orang pasti asyik banget! Benar, saat mulai kenal dan ngobrol, dari gaya dan cara ngomongnya emang seperti kebanyakan seniman yang santai, cuek, asyik. Ia juga bukan sosok yang berisik, sih, tetapi kalau sudah ngobrol, nyambung dan menyenangkan banget.

“Dulu gue juga kayak lo waktu masih kerja kantoran, Prast. Bingung ngambil cuti untuk traveling karena kerjaan nggak bisa ditinggal, akhirnya gue putusin resign. Gue pernah juga di pedalaman harus ngirim tulisan tapi nggak ada jaringan internet, nggak ada wi-fi, gue harus ke warnet terdekat jaraknya 3 jam, gokil. Kayak gitu, sih, perjuangannya, tapi seru!” Salah satu cerita Zacky yang saya ingat di Bentara Budaya Bali.

Ia juga cerita masalah rokok. Dulu ia perokok berat, pernah berhenti setahun, lalu merokok lagi demi mood terkait pekerjaannya. Tapi merokoknya kalau lagi kerja saja. Di rumah, sih, dia bilang tidak merokok. Kisahnya.

Cool, lah, teman yang satu ini. Karena waktu masih muda saya juga anak tongkrongan, jadi mendapati banyak teman yang cool seperti Zacky. Sukses terus, Sob! Terima kasih, senang berkenalan dengan Anda.

  1. Nita Febriani

_dsc5187

Hanya diam di tengah-tengah kami setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, ternyata anak ini perwakilan jurnalis dari Koran Sindo. Lebih tepatnya ia ini jurnalis magang, karena statusnya masih mahasiswi. Ia cerita, cukup kaget juga ketika dipilih oleh atasannya untuk berangkat dalam ekspedisi JEJAK MAHAKARYA 2016 ini, tetapi senang banget karena sedang merasa bosan.

Ia ini memang pendiam, sih, namun kalau sudah beraksi dengan kameranya, eeeeiiittsss.. segala cara dilakukan demi mendapat angle terbaik. Sebagai fotografer perempuan, keren banget! Dan sesuai, hasil jepretan kameranya apik-apik. Minder saya jadinya, tidak ada apa-apanya jepretan kamera saya dibanding Nita. Artikel dan foto-foto yang ditulis Nita di Koran Sindo pun kereeeeeeen!

Seiring berjalan waktu, si pendiam ini enak, lho, diajak ngobrol. Orangnya cukup terbuka ternyata. Entah, mungkin karena kami teman-teman baru baginya, jadi masih ada rasa sungkan untuk lebih akrab dengan kami. Lagi-lagi rafting yang membuka sifat orang. Saat rafting, Nita yang pendiam menjadi Nita yang bawel, apalagi dia seperti terperangkap dalam perahu yang salah berisi saya, Rere, Dolly, dan Agus, yang isinya kegaringan-kegaringan tua yang tidak ia mengerti sebagai anak muda. Ditambah, di perahu itu juga berisi gosip-gosip artis, Nita semakin tidak mengerti. Hahahahaha..

Baiklah Nita yang baik hati, kudoakan lancar dan sukses kuliahnya, langgeng hubungannya dengan sang pacar, serta terima kasih sudah menjadi bagian dari silaturahmi ini.

  1. Glandy Burnama

_dsc5297

Glen dari Jawa Pos, Surabaya. Sayangnya ia tidak bergabung dengan kami sejak hari pertama di Surabaya, tetapi baru bisa bergabung di hari ketiga, Rabu, 17 Agustus 2016, hingga banyak tertinggal mengunjungi destinasi-destinasi apik yang anti-mainstream dan seru! Glen baru bergabung di RUMAH DESA, Marga, Tabanan, itu pun menjelang makan siang, setelah dijemput Manda di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Glen cerita bahwa ia baru diutus Selasa malam, ia pun kaget karena mendadak banget, dan belum ada persiapan apa-apa. Akhirnya dengan persiapan seadanya, ia berangkat juga.

Anak muda yang satu ini langsung nyetel dengan teman-teman barunya begitu tiba di Bali. Pencinta dan penikmat drama, boyband, dan apa pun yang berbau Korea ini adalah tipe orang yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Sosok yang bawel, seru, menyenangkan, dan tidak malu bertanya untuk hal yang tidak ia ketahui. Ia pun tidak sungkan meminta foto-foto dari para fotografer yang terlibat di JEJAK MAHAKARYA 2016 ini demi kebutuhan tulisannya di Jawa Pos. Dan hasilnya, tulisannya di Jawa Pos memang bagus dengan dukungan foto yang apik, meski sayangnya tidak semua destinasi bisa masuk di korannya karena keterbatasan halaman.

Terus banyak belajar dari para senior, Glen. Jangan pernah putus kontak dengan teman-teman karena mereka jurnalis, penulis, dan fotografer andal. Terima kasih sudah bergabung, jadi menambah saudara.

  1. Reh Atemalem Susanti

_dsc5292

Kalau tidak ada Rere, mungkin perjalanan JEJAK MAHAKARYA 2016 ini akan sepi. Ia pemenang kompetisi blog yang berhak atas hadiah perjalanan ini. Dari awal kumpul di McD, Swiss-Belhotel, Bandara Soekarno-Hatta, Surabaya, Bali, hingga Bandara Soekarno-Hatta lagi, ibu muda inilah yang selalu menghidupi suasana menjadi seru dan meriah. Sekadar ngobrol, nyanyi, ‘berantem’ dengan Dolly, foto-foto demi kebutuhan media sosialnya, nanya ini-itu, nelpon anaknya, dan lain-lain, semuanya dilakukan dengan seru.

Sebelumnya saya hanya tau Rere dari reply-reply-an komen di twitter @NegeriID. Makanya saat kenalan di McD Kemang, Rere bilang, “Oooh… ini yang namanya Prast Lampard. Aku Rere, @atemalem.” dari situ sudah terbaca, nih, orang pasti asyik. Benar!

Saya salut sama Rere yang baik ini, seakan tidak ada capeknya, penuh semangat, mood-nya tidak berubah dan terjaga dengan baik selama 6 hari perjalanan itu. Berisik, bawel, cerewet, rame, ketawa-ketiwi, tidak pernah berhenti. salah satu yang membuat perjalanan ini menyenangkan, ya, Rere ini. Bikin hidup lebih hidup. (Eh, maaf, itu tagline rokok lain, ya? Perjalanan kita ini milik Dji Sam Soe. Maaf, maaf. Hehehehe)

Tapi di suatu kesempatan, saat ngobrol serius, ia pun bisa menempatkan diri menjadi orang yang serius. Ia juga pernah menawarkan saya meminjamkan uangnya untuk saya pakai jika saya belum menemukan mesin ATM untuk mengambil uang sebagai sangu. Tetapi alhamdulillah saya menemukan mesin ATM. Dalam perjalanan ini, ia tetap bekerja menulis di sela-sela yang lain istirahat. WOW!

Saya menjadi orang yang beruntung bisa mengenal dan berteman dengan ‘si seru’ ini. Jaga terus silaturahmi ini, Re. Kangen, nih, belum sempat ikut kumpul-kumpul lagi. Apalagi waktu itu mau kumpul di Plaza Senayan malam hari batal karena cuaca tidak bersahabat dan saya sakit. Terima kasih, Re. Semangat terus yaaaaaa…

  1. Dolly Putra Riqlika

_dsc5294

SAMBILNGOPIYUK begitu ia dikenal di media sosial. Bersama Rere menjadi pemenang kompetisi blog JEJAK MAHAKARYA 2016. Belum kenal baik saat di McD dan Swiss-Belhotel, tetapi sudah terlihat ia orang yang rame, seru, dan tidak bisa diam. Dalam perjalanan ke Surabaya dan Bali, saya selalu duduk di sebelahnya dalam pesawat. Nah, dari situ mulai ketahuan ia ini orang yang supel, senang ngobrol, wawasannya luas, dan ‘sealiran’ dengan saya urusan kegilaan terhadap sepak bola. Ia juga tak putus mengobrol dengan seorang kakek yang duduk di sebelah kirinya sepanjang perjalanan di pesawat. Nyambung, malah sampai tukaran kartu nama atau nomor ponsel. Jago, nih, Dolly dalam berkomunikasi.

Setibanya di Bali, saat pembagian kamar, saya sekamar dengannya. Dari situ banyak obrolan tercipta, dan saya semakin mengenalnya. Ini orang yang pintar, berjiwa seni tinggi [terbukti belum lama ini ia share di facebook video sedang bermain gitar dengan ponakannya, sumpah jago banget Dolly], baik, asyik, menyenangkan, dan sosok yang taat beribadah di mana pun berada. Paling seru, sih, kalau ia sudah ‘berantem’ dengan Rere, yang jadi tempat mereka mengadu pasti Simbok Venus, sang emak. Hahahaha..

Usai perjalanan JEJAK MAHAKARYA ini, ia memutuskan hengkang ke kampung halaman di Banjarbaru, Kalimantan. Wah, bakal sulit bertemu dengan Dolly lagi. Sayangnya waktu ia ke Jakarta beberapa pekan lalu, saya tidak bisa memenuhi ajakannya nimbrung kumpul-kumpul makan siang di Plaza Semanggi. Tapi kabarnya acara makan siang itu batal, tidak jadi kumpul. Kini komunikasi paling intens saya dengan Dolly via media sosial. Ya, paling sering, sih, membahas sepak bola mencela tim tertentu, dan membahas bahasa Indonesia. Hahahaha.. Teteeeeeuuuppp… POLISI BAHASA!

Dolly, sukses untuk semua yang lo lakukan saat ini termasuk wirausaha lo di Banjarbaru, berkah terus, ya, Bro! Terima kasih atas persaudaraan ini.

  1. Afrianto Silalahi Situngkir

_dsc5290

Pemenang lomba foto JEJAK MAHAKARYA 2016 dari Riau. Dari namanya sudah ketahuan ia asal dari daerah mana, ditambah begitu lihat wajahnya, semakin terlihat keras rahang dan karakter wajah dari daerah tertentu. Tetapi, ia sosok yang lebih banyak diam. Entah karena berada di lingkungan baru, atau memang aslinya pendiam? Namun kalau sudah bercanda, bocor halus orang ini, seru, dan gokil!

Bersatu dengan Barry, Agus, Hendra, Ozi, Zacky, ia seperti menemukan rumahnya. Ia dikeroyok oleh rekan-rekannya itu karena masih menggunakan kamera gede lah, kameranya merk itu lah, dan lain-lain. Heboh, sih, mereka kalau sudah main cela-celaan. Tidak perlu diragukan lagi foto-foto hasil jepretannya JUARA! Silakan kunjungi akun instagramnya, atau simak facebooknya, ia sering pajang foto-fotonya yang ber-watermark “Getty Images” itu bukan foto sembarangan yang bisa dijual di Getty Images. Saya tahu karena saya bekerja di kantor media yang biasa membeli foto dari Getty Images juga.

Tidak banyak yang bisa saya tulis dari laki-laki berahang keras namun baik ini. Berteman dengannya, bisa mencuri ilmu fotografinya. Minimal mengagumi karya-karya apiknya. Kami pun berpanas-panasan saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta lagi. Saya menunggu bus Damri ke Bekasi, ia menunggu bus menuju rumah saudaranya di Cibubur (kalau tidak salah) untuk istirahat selama 2 hari sebelum pulang ke Riau. Terima kasih sudah menjadi teman dan salah satu inspirator dalam dunia fotografi, Brother!

  1. Angelus Agustinus

_dsc5285x

Bersama Afrianto, ia memenangi lomba foto JEJAK MAHAKARYA 2016. Katanya dari Jawa, tetapi logatnya terdengar Sumatera. Orang yang langsung akrab dengan teman-teman lain, mudah lebur dalam obrolan ketika di McD Kemang. Ia datang bersama Hendra Permana. Ketika menyinggung masalah fotografi, ia langsung merendah. Ternyata ia termasuk fotografer kelas kakap yang sudah banyak prestasi, bepergian ke banyak tempat, dan sering menang lomba foto.

Ia juga termasuk teman yang seru dalam perjalanan kami selama 6 hari. Sering menghadirkan jokes meskipun garing. Tongsis dan GoPro (kalau tidak salah) menjadi salah satu senjata andalannya. Paling sering menjadi pengarah gaya bagi obyek yang dipotret. Hasil pemantauan saya, di antara para fotografer yang ikut, Agus inilah yang paling rame dan usil. Cukup menghidupkan suasana, lah.

Yang paling nyangkut di ingatan saya ketika rafting, ia sangat bahagia untuk kali pertama ikut rafting. Paling antusias. Foto sana-sini, termasuk usil candid salah satu peserta rafting wanita cantik asal Perancis ketika sedang mendengarkan briefing dari guide-nya. Di tengah perjalanan rafting, akibat benturan, ia mengalami cedera pada bahunya, lalu ngedrop! Namun usai istirahat menikmati dagangan warung di pinggir Sungai Ayung traktiran Bli Can, ia semangat kembali menjalani rafting.

Keseruan tidak musnah dari seorang Agus hingga pulang ke Jakarta kembali. Asyik, Bro! Terima kasih sangat.

  1. Hendra Permana

_dsc5289

Pemenang kompetisi micro-blog JEJAK MAHAKARYA 2016 bersama saya. Begitu ada pengumuman pemenang, ia langsung menghubungi saya via inbox di instagram. Apalagi ketika ia belum mendapat kabar jadwal workshop dari pihak Imogen, sayalah yang ia hubungi. Pertemuan pertama pun terjadi di McD Kemang, yap, sudah kelihatan asyik, nih, orang. Dan benar, ternyata ia termasuk orang yang cerewet juga. Gampang nyambung ngobrol dengannya, apalagi ia juga kenal dan pernah belajar foto dengan seorang fotografer senior di kantor saya, jadi ada saja bahan obrolan.

Selama perjalanan 6 hari Surabaya-Bali, ia juga termasuk orang yang rame apalagi kalau sudah kumpul dengan Barry cs. Terlihat yang paling sumringah atas perjalanan ini apalagi ke tempat-tempat yang tidak biasa di Bali, ditambah jadi kenal banyak teman baru. Ia orang baik yang mau menyapa siapa saja peserta yang ia jumpai atau berada di dekatnya, meski sekadar menyapa tidak ngobrol.

Hendra ini juga buat saya sudah termasuk ke dalam fotografer andal yang banyak menang lomba. Dan ia salah satu yang cepat tanggap di grup WhatsApp atau media sosial. Sangat aktif. Silaturahmi membuka pintu rezeki, Bro! Terima kasih, senang berteman dengan Anda.

Untuk semua:
Mohon maaf jika ada tulisan yang kurang atau tidak berkenan di hati Anda, dan harus saya edit atau hilangkan, saya siap. Yang pasti, kebahagiaan terbesar saya tahun 2016 ini adalah, bisa mengenal dan memiliki keluarga baru yaitu kalian, keluarga JEJAK MAHAKARYA 2016. Tak akan pernah terlupakan seumur hidup saya.
I LOVE YOU ALL…
Penulis: Prast
Foto-foto: Prast