Asia87 Peduli Berbagi Kebahagiaan dan Kado Lebaran Bagi 1000 Anak Yatim-Dhuafa

Asia87 Foundation, sebuah yayasan yang didirikan oleh para alumni Sekolah Islam Al Azhar angkatan 1987, kembali menggelar acara Buka Puasa Bersama 1000 Anak Yatim dan Dhuafa untuk kali ketujuh di Grand Opera 123 – The Tribrata Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Sabtu, 18 Mei 2019.

IMG20190518173246

Ramadan 1440 Hijriyah di tahun 2019 ini sudah memasuki hari ke-13. Cepat sekali, ya? Tiba pula saatnya Asia87 Peduli mengadakan acara rutin tahunannya setiap Ramadan bertajuk ‘Buka Puasa Bersama 1000 Anak Yatim dan Dhuafa’ dengan anak-anak dari 20 panti dan yayasan. Tahun ini mengangkat tema “Bermain Sambil Belajar”, yang diadakan di The Tribrata Dharmawangsa, Jakarta Selatan, memakai konsep yang berbeda dibanding tahun lalu, yaitu duduk lesehan tanpa sekat pembatas dan menjadikan suasana lebih akrab juga hangat. Bagi saya, ini untuk kedua kalinya hadir di acara ini, setelah tahun lalu diadakan di Balai Sarbini.

Secara simbolis penyerahan kado Lebaran dan santunan diberikan panitia Asia87 Peduli kepada masing-masing perwakilan panti dan yayasan, berupa perlengkapan sekolah dan alat tulis, serta dalam bentuk uang. Dengan terwujudnya acara tahun ini menunjukkan “Berkarya untuk Negeri” bukanlah sekadar perkataan atau ungkapan, tetapi merupakan sebuah gerakan. Gerakan yang dimulai dari rasa kesadaran dan kepedulian, gerakan untuk tidak memilih diam namun bekerja nyata dengan niat baik yang tulus sesuai dengan kapasitasnya.

lbu Shanty Widhiyanti Ketua Panitia Asia87 Peduli Buka Puasa Bersama 1000 anak Yatim dan Dhuafa mengatakan, “Semoga dengan dihadirkannya pergelaran seni musik, berbagi cerita, inspirasi, permainan, serta santunan kado Lebaran, berupa tas sekolah, alat tulis, uang lebaran, kebutuhan lainnya dapat membuat tamu utama kita tersenyum, tertawa, dan kembali puIang dengan kebahagiaan.”

IMG20190518173934

Acara yang dimulai pukul 14.00 WIB ini dibuka dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh hafiz cilik Ivan Hartawan, dan dilanjutkan dengan game terkait psikologi anak selama hampir 1 jam dibimbing oleh dua instruktur di atas panggung. Game yang paling menarik saya lihat adalah Theraplay, yaitu sebuah metode terapi anak dan orangtua untuk membantu mengatasi masalah attachment. Theraplay bisa dilakukan untuk anak yang punya masalah dengan pencarian perhatian, sering tantrum besar, kurang percaya diri, atau sangat penakut. Theraplay juga merupakan suatu terapi untuk mengasah kreativitas anak dengan cara bermain. Perbedaan dengan terapi lain adalah, Theraplay dilakukan dengan cara yang menyenangkan, terapi sambil bermain. Tujuannya untuk membangun rasa percaya diri pada anak sehingga ia tidak perlu takut atau malu-malu lagi untuk “unjuk gigi” di depan orang banyak. Nah, nyambung banget, kan, dengan tema acaranya “Bermain Sambil Belajar”? Klop!

IMG20190518145142IMG20190518145119

Sesi game selesai, acara break sekitar satu jam untuk memberi kesempatan kepada seluruh anak-anak, pembimbing panti dan yayasan, panitia, pengisi acara, dan tamu undangan melakukan salat ashar berjamaah di lokasi parkir yang disulap menjadi tempat salat sementara. Supaya tidak penuh dan berdesakan, panitia menggilir salat bergantian per panti dan yayasan. Wajah-wajah ceria terpancar dari anak-anak ini karena mereka menambah banyak saudara dengan keikutsertaan di acara ini, termasuk saat akan salat ashar.

Kembali ke acara, usai salat ashar hingga magrib diisi dengan hiburan yang padat, pembagian santunan, dan doa bersama, dengan menghadirkan beberapa bintang tamu antara lain Ndho Percussion, X-Star Carnaval, Roro Dancer dan bintang utama Anneth Indonesian Idol Junior 2018, juga Komunitas Selamatkan Lagu Anak (Ria Enes & Susan, Leony, Dhea Ananda, Natasha dan Kak Nunuk), dan dipandu oleh Duo MC Obie Asik dan Tatha Yank. Ria Enes & Susan, Dhea Ananda, Leony, dan Natasha, menyajikan lagu-lagu lawas anak-anak asli yang populer pada zaman dahulu saya kecil, dan mulai punah hari ini. Saya sampai merinding dan mata berkaca-kaca mendengar mereka bernyanyi bersama anak-anak yatim dan dhuafa dengan kompaknya. Ini juga menjadi bagian dari kampanye Komunitas Selamatkan Lagu Anak. Sungguh, teramat sangat keren. Sedangkan Anneth, idola saya yang saya jagokan di Indonesian Idol Junior terakhir, mempersembahkan lagu-lagu hits yang dikenal banyak kalangan dengan suara emasnya. Ah, kamu Juara, Anneth.

Penampilan Anneth menjadi penutup rangkaian acara hiburan, yang kemudian dilanjutkan dengan pembagian santunan, kultum, doa bersama, dan berbuka puasa. Usai salat magrib, masih ada sedikit acara kecil sebagai penutup keseluruhan acara.

Nak, kalian bahagia, tetapi ada yang lebih bahagia dari kalian, yaitu orang-orang baik yang mengeluarkan hartanya guna memberi kepada kalian, karena harta yang dikeluarkan tersebut akan menjadi penolong mereka di akhirat kelak.

IMG20190518165450IMG20190518173456

Tulisan & Foto: Prast
Jakarta, Minggu, 19 Mei 2019, 14.45 WIB

.

====================

.

Acara ini didukung oleh 20 Sponsor yaitu PT. JNE Express Across Nations, PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk, TBK, PT. Semen Indonesia, PT. Sigap Dasa Perkasa, PT. Huawei Tech Investment, PT. Bank Mandiri (PERSERO), DIGIASIA BIOS, PT. Kennlines Capital, PT. Bahana Capital, PT. Decon Multi lndustri, PT. Bank Maybank Indonesia, Tbk, PT. Mahaka Media Tbk -Jak TV, PT. Bank Syariah Mandiri, PT. Indonesia Asahan Aluminium, PT. Sinar Kencana Agung (Happy-Tos), PT. Desiana, dan Musik Bagus, dengan 1000 anak yatim dan dhuafa sebagai tamu utama. 
Advertisements

Si Doel The Movie, Nostalgia Pengobat Rindu

“Anak Betawiiiiii… ketinggalan jamaaaaan… katenyeeeee…” suara si Doel membuka lagu ‘Si Doel Anak Sekolahan’ di awal film, seketika membuat saya langsung merinding terkenang masa jaya sinetronnya era 90’an.

Si Doel

INTRO

Scene awal film ini langsung membuat dada saya sesak dan air mata meleleh dengan sendirinya. Kenapa? Quote dari para tokoh yang sudah meninggal dunia dihadirkan lewat suara mereka yang diambil dari sinetron Si Doel Anak Sekolahan dulu. Babeh Sabeni, Kong Ali, RoyMas Karyo, Ncang Rohim, dan Kong Bodong, suaranya menggema di dalam bioskop, yang isinya berupa petuah, nasihat, dan pesan untuk Si Doel. Selain itu apa lagi? Mak Nyak!

“Lo janji, ye, sama enyak, ye, kalo udeh sampe di sono, lo kagak usah cari-cari Sarah lagi,” Pesan Mak Nyak saat Doel pamitan untuk ke Belanda.

“Jangan malu-maluin si Doel, lu, Ndra. Jagain Doel di sono, ye?” seru Mak Nyak yang terbaring lemah kepada Mandra, adik satu-satunya.

“Iyak, tenang aja, yang penting Mpok sehat yak selama saya pergi,” Mandra cengengesan lalu mengangkut barang-barangnya ke luar rumah.

Mak Lela alias Mak Nyak (Ibu Aminah Cendrakasih) di usianya yang sudah 80 tahun, memang tak dimungkiri lagi adalah seniman sejati yang superhebat. Meski sudah 8 tahun mengalami buta dan lumpuh akibat glaukoma, tetapi akting beliau di film ini luar biasa apik! Sangat natural, dan kata Bang Rano Karno di sebuah sesi wawancara yang saya tonton di TV, Mak Nyak cepat banget hafal naskah yang dibacakan. Malah, Bang Rano bilang syuting film ini diawali dengan seluruh scene Mak Nyak walau belum ada skenarionya, dan naskah untuk Mak Nyak pun belum ada sama sekali, dibuat spontan di lokasi, mengingat kondisi Mak Nyak yang semakin memprihatinkan. “Waktu saya syuting dengan Mak Nyak Oktober tahun lalu, saya belum punya skenario. Saya baru punya bayangan aja Si Doel sama Mandra pamit, Zaenab ketemu Enyak,” tutur Bang Rano Karno.

Setiap scene beliau di film ini, mata saya tidak hanya berkaca-kaca, tetapi air mata meleleh dengan sendirinya sampai dada sesak, tentunya mengingat masa-masa beliau masih sehat, gemuk, segar bugar, dan cerewet di sinetron Si Doel Anak Sekolahan dulu. Selain itu, bagi saya pribadi mengingatkan akan almarhumah ibu saya saat stroke selama 7,5 tahun, mirip banget Mak Nyak di sini, ya wajah tirusnya, ya suaranya, ya nada bicaranya waktu ibu saya masih bisa bicara. Angkat topi untuk Mak Nyak, tak akan ada yang bisa menggantikannya. Didoakan agar beliau diberi panjang umur oleh Allah hingga bisa ikut syuting lagi untuk Si Doel The Movie 2, 3, 4 dan seterusnya. Aamiin.

710af5a0-8d38-40a5-98f0-78b5f432ddcb_169

SINOPSIS

14 tahun sudah Sarah (Cornelia Agatha) pergi tanpa kabar dan perpisahan yang jelas, menyimpan kerinduan dalam hati Kasdoellah alias Doel (Rano Karno) yang sudah berumah tangga dengan Zaenab (Maudy Koesnaedi). Melalui Hans (Adam Jagwani), dengan alasan Hans memberi pekerjaan kepada Doel untuk mempersiapkan Festival Betawi bertajuk Tong Tong Fair yang akan diadakan di Belanda dua bulan lagi, Sarah meminta Doel dibawa ke Amsterdam untuk mempertemukannya dengan Abdullah alias Dul (Fahreyza Anugrah), anak hasil pernikahannya dengan Doel. Doel ditemani Mandra (Mandra Naih) terbang ke Amsterdam untuk bertemu dengan Sarah dan anaknya, Dul. Tapi, kini Doel berada di dalam pilihan yang sulit. Harapan, kerinduan, keresahan dan keikhlasan menyelimuti kisah tiga insan yang kerap ‘dipermainkan’ oleh takdir. Dan pilihan untuk berada dalam jalan terbaik berada di tangan Doel yang menggalau tanpa mau membohongi dan melukai perasaan siapa pun. Tuntaskah kisah percintaan Si Doel yang selalu rumit sejak dulu? Apa yang terjadi? Lalu bagaimana dengan Sarah? Siapa wanita yang akhirnya jadi pelabuhan terakhir hati si Doel? Apa benar film ini sudah menjawab semuanya?

2825821261

20180608025756si_doel_the_movie

ULASAN

Sebagai penggemar berat sinetron Si Doel Anak Sekolahan sejak saya masih anak-anak, saya sangat menunggu kehadiran film ini. Apalagi usai Bang Rano Karno menuntaskan tugasnya di dunia politik dan kembali ke dunia film, saya salah satu orang yang bahagia karena beliau adalah orang film berkualitas tinggi, dengan karya-karya yang juga berkualitas tinggi, yang menjadi idola saya di dunia seni, bukan politik.

Si Doel The Movie membangkitkan nostalgia dan kerinduan akan cerita Si Doel yang selalu ditonton di televisi setiap malam, termasuk set dan properti ikonis keluarga Babeh Sabeni seperti rumah khas Betawinya, oplet, tanjidor, kandang burung perkutut Mas Karyo, sampai foto-foto hitam-putih keluarga. Malah di tengah barang-barang rumah tangga yang sudah modern dimiliki keluarga Doel, Atun (Suti Karno) masih menyetrika pakaian memakai setrika arang. Sambil membakar arang, Atun ngedumel, “Ah, si Enyak, jaman udah modern, setrikaan masih kayak gini aje,” tuturnya. Sepertinya properti setrikaan ini memang sengaja dipilih agar kesan kunonya tetap kuat.

Si Doel The Movie masih mempertahankan akting para pemainnya yang orisinal hingga penonton tetap dekat dengan para tokoh dan bisa merasakan masuk ke dalam cerita. Sederhana, tanpa shot dan efek suara yang didramatisir, atau dialog yang tak realistis, masih sama dengan sinetronnya dalam menuturkan kisah. Karakter para pemain tak diubah, hanya disesuaikan dengan usia mereka yang semakin tua. Doel masih menjadi tokoh yang irit bicara dan cukup mengungkapkan emosinya melalui ekspresi wajah, serta Doel yang tidak tahu cara menyikapi cintanya yang penuh dilema. Atun sebagai janda Mas Karyo dengan seorang putra bernama Kurtubi alias Abi (Ahmad Zulhoir Mardi) masih jenaka dan ceplas-ceplos polos kalau ngomong. Zaenab yang tetap lugu, Sarah yang semakin elegan, dan Ahong (Salman Alfarizi) yang konsisten dengan kekakuannya.

3656116093

si-doel-feat-1300x500

X9T6rUxsSn

Satu tokoh yang menjadi nyawa dan penghidup film ini adalah Bang Mandra. Sepeninggalan Babeh Sabeni (H. Benyamin Sueb), Engkong Ali (H. Enun Tile), dan Mas Karyo (H. Agus Basuki Bin Suwito Hadiwiryono), Bang Mandra nyaris tidak punya tandem untuk sisi komedi SI DOEL. Kalau pun ada, mungkin hanya Atun yang menjadi tandem Bang Mandra untuk menghadirkan kelucuan di SI DOEL, kadang-kadang, Doel yang menjadi ‘dinding’ untuk tektokan Bang Mandra saat melucu.

Tapi di Si Doel The Movie, Bang Mandra boleh dibilang nyaris ‘bersolo karier’ guna menghasilkan tawa penonton. Hasilnya? Dahsyat! Sebagai seniman yang lahir dari dunia Lenong dan terbiasa ngomong sendiri, Bang Mandra benar-benar mengocok perut penonton lewat dialog-dialognya, penyampaiannya yang alami, gerak tubuhnya yang (seakan) spontan, dan terlihat ada beberapa kali hasil improvisasi dia, bahkan ada juga yang sebenarnya agak belepetan dialognya tetapi tidak di-cut oleh Bang Rano sebagai sutradara, malah jadi lucu banget. Gemuruh tawa penonton selalu pecah tiap scene Bang Mandra, tak jarang saya pun tertawa ngakak sambil menghentak-hentakkan kaki ke lantai. Meski di Si Doel The Movie ini ia kadang masih punya tandem, sih! Dengan Atun yang terpisah jarak Amsterdam-Jakarta, dan dengan Hans juga menjadi partner Bang Mandra saat melucu. Di sini Bang Mandra memamerkan bahwa untuk berkomedi dengan lucu, tidak perlu berlebihan. Bahkan banyak dialog dia yang biasa saja, menjadi lucu banget karena dia yang ngomong. Beberapa gerak tubuhnya tidak istimewa, tapi tetap mengundang tawa. Komedian sejati dengan aura lucu yang tinggi, memang sudah menjadi bawaan lahir Bang Mandra.

Ya… ya… ya… SELAMAT DATANG KEMBALI, BANG MANDRA!

Film ini tentunya juga punya kekurangan-kekurangan di mata saya, antara lain:

1. Hampir setiap scene Doel cepat mengalami kebosanan nontonnya dengan wajah Doel yang flat dan minim dialog malah menjadikan film hening. Saya mengerti, Doel ingin mempertahankan karakternya seperti di sinetron, namun di film yang bagus ini membuat alur menjadi lambat. Untunglah Bang Mandra selalu muncul sebagai ‘Dewa Penyelamat’ film ini.
2. Kurang ‘dieksplor’-nya anak dari Doel dan Sarah, Dul, hanya lewat durasi scene yang sedikit. Padahal jika diberi peran lebih saat berinteraksi dengan sang Ayah yang baru pertama kalinya ditemui setelah ia menjadi remaja guna membangun chemistry mereka berdua, hingga dapat menimbulkan rasa gemas atau penasaran penonton, akan lebih megang, tuh! Tapi karakter Dul di sini cukup kuat, dan dia bermain dengan ‘halus’. Saya yakin di sekuelnya nanti, Dul akan mendapat banyak peran.
3. Hilangnya beberapa scene yang tayang di trailer. Apa saja, tuh? Saat Zaenab di belakang oplet menelepon Doel yang sedang naik trem di Belanda, lalu Zaenab bertanya kenapa ada suara kereta, Doel berbohong dengan menjawab bahwa toko rotinya di belakang stasiun kereta. Saya mengerti lagi, mungkin berbohong ini bukan sifatnya Doel, jadi dapat merusak karakter Doel yang sudah lama terbangun. Selain itu, saat Mandra di depan pintu ingin masuk kontrakan Hans, dan Mandra minta sambel ke penjual makanan, ia menyebut kata “meneer”, itu juga hilang. Mungkin dianggap kurang etis kali, ya, panggilan “meneer” tersebut? Oh iya, satu lagi, laki-laki Belanda pengunjung museum yang matanya memar seperti habis ditonjok, juga tidak tayang di filmnya. Semua yang diedit itu tidak signifikan, sih, bagi saya, karena tidak mengurangi benang merah filmnya juga.
4. Durasi yang sebentar, hanya 85 menit. Padahal perjalanan kisah Si Doel ini panjang banget, lho, tapi hanya difilmkan selama 85 menit. Saya pun yang sedang asyik menikmatinya, merasa belum terpuaskan. Akan bersambung ke episode berikutnya? Ya sudah, saya tunggu saja.
5. Ending yang tidak tuntas total, kalau boleh dibilang gantung. Lagi-lagi saya mengerti, memang sengaja dibuat seperti itu agar penonton penasaran dan bakal menunggu kelanjutannya. Yang tidak mengagetkan saya karena film ini diproduksi oleh Falcon Pictures, yang punya kebiasaan bikin film menggantung, tidak tuntas, atau sengaja dibuat berseri, mungkin demi perhitungan bisnis juga. Baru mungkin, lho!

Semoga kelanjutannya berdurasi lebih panjang, menggali lebih dalam lagi konflik-konfliknya tapi alurnya tidak lambat, serta cerita dan tokoh-tokohnya dikembangkan lebih jauh lagi.

2017_12_29_38089_1514485832._large

502fcfa72ce109caab45fbb129a2495f

Secara keseluruhan Si Doel The Movie sukses melepas kerinduan saya akan kisah klasik keluarga Betawi ini, meskipun kisah cinta segitiga Doel-Sarah-Zaenab belum sepenuhnya dijawab oleh Si Doel. Film bagus yang sisi komedinya lucu banget bisa membuat tertawa ngakak, sisi haru dan sedihnya dalam banget bisa sampai bikin menangis, serta lokasi-lokasi di Belanda yang ditampilkan indah banget membuat saya kagum dan ingin traveling ke sana. Prediksi saya bahwa film ini akan meraih lebih dari 3 juta penonton, tampaknya sangat realistis melihat animo yang sangat besar dari masyarakat untuk menontonnya. Malah dalam waktu enam hari, film ini telah meraih 1 juta penonton. Tidak kaget, karena Si Doel sudah punya basis penggemar yang fanatik, baik angkatan tua maupun angkatan muda masa kini, ditambah mereka sudah rindu dengan kisah Si Doel. Bagi saya, film ini sukses menjadi pembangkit nostalgia dan pengobat rindu. Saya pun masih akan nonton film ini lagi di bioskop, mungkin sampai tiga kali.

Tetapi bagi Bang Rano Karno, ada yang lebih penting dari itu semua yaitu ia sukses menjalankan amanah dari H. Benyamin Sueb jauh-jauh hari sebelum beliau wafat agar ia terus melestarikan kisah Si Doel yang telah ada sejak tahun 1972 lewat film Si Doel Anak Betawi yang ia (sebagai Doel) dan Bang Ben (sebagai H. Sabeni ayahnya Doel) perankan, hingga Si Doel The Movie di tahun 2018 ini.

Saya sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton di bioskop. Percaya, deh, jangan bimbang dan ragu, apalagi jika Anda penggemar serial Si Doel Anak Sekolahan, langkahkan kaki Anda ke bioskop terdekat, tidak akan menyesal.

PERINGATAN!
Saya bukan pengamat atau kritikus film, tetapi hanya penikmat film. Setiap menulis review film, saya menulis berdasarkan atas apa yang saya lihat, saya dengar, saya rasa, dan saya pikirkan saja. Ya, murni dari kacamata pribadi saya. Jadi, SUBJEKTIVITAS yang paling berkuasa atas tulisan saya ini. Jika Anda berbeda penilaian dengan saya, ya, silakan saja, sah, tidak ada yang melarang.

====================================
Penulis: Prast
Foto-foto: Dokumentasi Si Doel The Movie
====================================

Official Trailer Si Doel The Movie

 

 

 

‘Antagonis’ Tandai Kembalinya Riani Sovana yang Protagonis

Jeda 14 tahun dari album pertama, tak menyurutkan semangat Riani Sovana untuk terus berkarya hingga melahirkan album kedua bertajuk ‘Antagonis’!

Cover Antagonis

Lama tak muncul di industri musik rekaman Indonesia untuk menjadi jurnalis, penulis buku, menyelesaikan kuliahnya di Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada, dan menjadi ibu rumah tangga, bukan berarti Riani Sovana, perempuan kelahiran 11 Maret 1983 ini berhenti total dalam bermusik. Setelah merilis album perdananya pada tahun 2004, ia digaet oleh Sujiwo Tejo untuk berduet di album seniman besar tersebut. Ia pun pernah mengisi keyboard untuk album Baron Soulmates, mengisi vokal seriosa di lagunya Ari Lasso dan Tere, serta membagi vokal indahnya di album Luky Annash. Sebagai komposer, ia menciptakan lagu untuk album Tere, dan Asty Ananta (dibawakan live di televisi). Lagu ciptaannya, ​Sisi Gelap, pernah menjadi soundtrack sinetron Djail, lalu di akhir 2015 ia mencipta dan menyanyikan lagu ​Senandung untuk soundtrack Demona, film horor layar lebar karya Rizal Mantovani.

Kini, ia mempersembahkan album kedua, ​Antagonis, yang telah dirilis di seluruh platform digital pada 1 Agustus 2018​, dengan diawali merilis single Takut Jatuh Hati terlebih dahulu pada pembuka tahun 2018.

Album ini berisi tujuh buah lagu, yaitu:
1. Sampai Kapan Kau Kan Mati?
2. Takut Jatuh Hati
3. Hingga Dunia Berakhir
4. Lupakan Dia
5. Godain Lagi Dong!
6. Antagonis
7. Senandung (Original Soundtrack “Demona”)

Sesuai dengan judul albumnya, ia memilih Pop dark-romantic sebagai genre yang diusung dan menjadi identitasnya di album ini. Namun, mendung tak berarti hujan, ia juga memberi sentuhan yang fun pada beberapa lagunya, hingga bisa membawa pendengarnya ke dalam suasana ceria, bahkan jenaka. Simak saja lagu Lupakan Dia dan Godain Lagi Dong!, asyik!

“​I actually have a very dark soul, tapi saya juga ingin berguna bagi orang lain dengan menyajikan lagu yang bersifat​ healing, dalam arti membantu menyembuhkan luka hati,” ungkap Riani.

Sovana2

Lagu Lupakan Dia menjadi istimewa karena direkam di frekuensi 432 hz yang biasa dipakai untuk merekam musik meditasi dan musik healing, karena kebanyakan musik pop direkam di frekuensi 440 hz. Tak tanggung-tanggung, di album ini ia menggandeng tiga penata musik Indonesia yang cukup populer, jaminan mutu, dan memiliki jam terbang tinggi yaitu Didit Saad (​Plastik, Potret dan Melly Goeslaw, Ipang, Ray D’Sky, Daddy and The Hot Tea, Bunga, EVO, Stars and Rabbit, Oppie Andaresta, Syaharani and Queenfireworks, Music Director untuk soundtrack film “Realita Cinta dan Rock N Roll”), Denny Chasmala (J-Rocks, BCL, Reza Artamevia, Titi DJ, Krisdayanti, Ratu, Duo Maia, Tere, Vina Panduwinata, penata musik film), dan ​Hendy HS (​Bali Shake, Zara-Q). Selain tiga musisi tersebut, musik Riani Sovana juga dilengkapi artwork karya Wickana Laksmi Dewi, dan musisi indie, Luky Annash, ​lewat dentingan pianonya, turut menyempurnakan album ini, dan layak menjadi collectible item. Seluruh lagu dan lirik di album Antagonis diciptakan sendiri oleh ​Riani Sovana (kecuali ​Hingga Dunia Berakhir, ciptaan Riani Sovana dan Dini Kimmel), dan dikelola oleh publisher Massive Music Entertainment.

Ketika untuk kali pertama saya mendengarkan album ini sudah enjoy, mendapatkan rasa, enak di telinga, dan nyangkut di kepala, artinya album ini memang bagus dan layak dimiliki. Nuansa etnik dan seriosa juga cukup kental keluar dari vokal perempuan bersuara lembut ini pada beberapa lagunya. Jika saya harus memilih satu lagu saja yang paling saya suka dan favoritkan, maka lagu itu adalah Lupakan Dia yang mengandung unsur blues, karena saya sangat menyukai musik blues.

Karya-karya anti-mainstream yang tidak tren di pasaran, tetapi dibuat dengan ketulusan hati oleh Riani Sovana, dapat dirasakan di semua lagu-lagunya yang sudah bisa kita nikmati di sini:

Joox: https://goo.gl/rPJkdY
iTunes: https://goo.gl/cj5UGY
Spotify: https://goo.gl/v3k5ot

==================================
Penulis: Prast

Foto: Ichmosa Orlando Rachmat, Riani Sovana, Hard Rock FM
==================================
INSTAGRAM:​ @rianisovana
FACEBOOK PAGE:​ @rsovana
TWITTER​: @rianisovana
WEBSITE: www.rianisovana.com
CONTACT PERSON: ​Halief Ardiasyah 0821-1060-9604 (sovana@rianisovana.com)

ASIA87 Peduli Buka Puasa Bersama 1000 Anak Yatim & Dhuafa

Asia87 Foundation, sebuah yayasan yang didirikan oleh para alumni Sekolah Islam Al Azhar angkatan 1987, kembali menggelar acara buka puasa bersama 1000 anak yatim dan dhuafa untuk kali keenam, di Balai Sarbini, Jakarta Selatan, Sabtu, 2 Juni 2018.

1527947161

Chicha Koeswoyo dan Shanty Sys NS menyerahkan sumbangan kepada sebuah panti asuhan

Menurut Shanty Sys NS, ketua pelaksana Asia87 Peduli, seperti tahun-tahun sebelumnya Asia87 Peduli kembali mengadakan kegiatan sosial unggulan berupa buka puasa bersama yang dihadiri oleh 1000 anak yatim dari 20 panti asuhan di Jakarta dan sekitarnya. Dalam acara ini juga diberikan kado Lebaran untuk anak yatim dan dhuafa.

“Kegiatan yang mengusung tema ‘Hatiku Riang Kala Ku Berdendang’ ini, sekaligus menjadi wadah silaturahmi rekan-rekan dari Asia87, donatur, sponsor, mitra kerja, relawan dan juga guru-guru,” kata Shanty.

Tema tersebut dipilih sebagai upaya Asia87 Peduli untuk terus menumbuhkan kesadaran bagi semua kalangan, terutama generasi muda, agar tidak pernah berhenti peduli dan terus menyalurkan energi positif dengan berkontribusi aktif melalui musik dan seni.

“Hal ini, sejalan dengan tujuan kami untuk membantu menanamkan serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan berkarya khususnya di bidang sosial, keagamaan, pendidikan, dan seni budaya, sesuai dengan misi utama kami Berkarya untuk Negeri,” tambahnya.

Acara yang dimulai sejak pukul 13.00 WIB untuk registrasi, dibagi menjadi dua segmen. Segmen pertama dibuka tepat pukul 14.00 WIB diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh seorang hafiz cilik, dilanjutkan lagu kebangsaan Indonesa Raya oleh Agria Swara IPB Choir. kemudian runtutan penampilan pentas seni disuguhkan oleh Agria Swara IPB Choir, talkshow musik dan tari oleh Gianti Giadi, dan ditutup dengan performa indah dari vokal Yara. Acara diistirahatkan sejenak selama 50 menit untuk salat ashar saling bergantian setiap panti asuhan, dan para tamu.

Shanty menambahkan, pihaknya merasa sangat senang dan bahagia melihat anak-anak yatim dan dhuafa dapat bergembira, menikmati dengan senyum kebahagiaan, dan membantu mereka dalam melupakan sejenak keadaan sulit yang dihadapi.

“Kami juga menyampaikan amanah dari para donatur untuk memberikan seluruh anak yatim dan dhuafa yang hadir, kado lebaran dan sejumlah bingkisan berupa makanan, snack, peralatan tulis, tas sekolah dan juga uang tunai,” tambahnya.

Wakil ketua pelaksana Asia87 Peduli, Chicha Koeswoyo, mengungkapkan, dalam acara ini juga ditanamkan agar dapat berkumpul dengan keluarga dan teman-teman terdekat, untuk berbagi keceriaan bersama, bersama-sama membagi rezeki yang kita miliki kepada mereka yang membutuhkan.

“Selain itu, juga untuk menguji iman dan kesabaran kita masing-masing sebagai umat muslim di bulan yang penuh rahmat, suci dan maghfiroh bulan Ramadan,” jelasnya.

_20180605_112918

Usai melaksanakan salat ashar, acara dilanjutkan kembali hingga waktu berbuka puasa tiba. Segmen kedua ini diawali dengan penampilan drama tari musikal nan apik dari Gigi Art of Dance dengan judul ‘Hatiku Riang Kala Ku Berdendang’ berdurasi 45 menit. Kisah inspiratif tentang Kisha yang pemurung, bahkan sulit diajak komunikasi oleh Ayah Ibunya. Singkat cerita, Kisha dan orang tuanya berlibur ke pulau Hepia yang sebenarnya bukan pulau tujuan mereka. Di sana Kisha bertemu seorang teman baru bernama Ahsik yang mampu mengubah mood dan sifat Kisha. Sesampainya di Jakarta kembali, Kisha menyadari bahwa kekuatannya ada di dalam dirinya sendiri. Dia bersyukur mempunyai sesuatu dalam dirinya yang bisa dibagi kepada orang lain.

Semua penampilan, baik drama, musik, lagu, maupun tari, ditampilkan dengan sangat elok oleh Gigi Art of Dance. Semakin mengharukan karena ditutup oleh tarian dari anak-anak ‘berkebutuhan khusus’ yang bergerak dengan luwesnya.

Setelah penampilan Gigi Art of Dance, secara berurutan acara yang ditampilkan hingga waktu berbuka puasa dan sesudahnya, antara lain penampilan dari penyanyi cilik idola, Naura, pemberian santunan kepada 1000 anak yatim dan dhuafa yang hadir, sambutan tamu VVIP, pemberian penghargaan untuk donatur dan sponsor acara, kultum dan doa berbuka puasa oleh dr. Aisah Dahlan, buka puasa bersama, penampilan Rampak Bedug Kampung Seni Yudha Asri, makan malam, dan penutup. Sambil bergantian salat magrib oleh para hadirin di musala yang terdapat di Plaza Semanggi.

Kebahagiaan pun terpancar dari wajah 1000 anak yatim dan dhuafa yang disantuni oleh Asia87 Peduli ini, juga tentunya menjadi kebahagiaan dari pihak penyelenggara, dan tamu-tamu yang hadir. Sampai berjumpa di acara yang sama pada bulan Ramadan tahun depan. InsyaAllah.

=====================

Penulis: Prast
Foto: Prast, Terry Endropoetro, Yopi Saputra

[Review] Turah

Sinopsis

Film TURAH menceritakan tentang permasalahan sosial kehidupan pada tatanan lapisan masyarakat kelas bawah. Film ini realita kehidupan di Kampung Tirang, Tegal. Kerasnya persaingan hidup, yang menyisakan orang-orang kalah dari kampung Turah. Awalnya mereka semua dijangkiti oleh sifat pesimisme dan juga diliputi perasaan takut. Terutama kepada Darso, yaitu juragan kaya yang telah memberi para penduduk ‘kehidupan’. Namun mereka bangkit, berjuang untuk melawan rasa takut mereka dan memperjuangkan hak mereka.

Pakel, dan para sarjana penjilat di lingkaran Darso melakukan berbagai cara dan membuat para warga kampung semakin bermental kerdil. Hal itu dimaksudkan agar tercipta situasi memudahkan Darso untuk terus mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya.

Setitik optimisme dan juga sebuah harapan untuk dapat terlepas dari kehidupan tanpa daya, hadir di dalam diri Turah dan juga Jadag. Peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, mendorong mereka untuk melawan rasa takut yang sudah akut tersebut, dan juga meloloskan diri dari narasi yang sangat penuh kelicikan. Hal ini adalah sebuah usaha sekuat daya dari mereka berdua, dan juga dari orang-orang di Kampung Tirang, supaya mereka tak lagi menjadi seorang manusia yang kalah, dan manusia sisa-sisa. Seperti apakah kisah lengkapnya? Silakan kunjungi bioskop yang menayangkan film ini.

 

REVIEW [ditulis oleh Prast Lampard]

Saya mungkin termasuk salah satu penikmat film yang bersyukur dengan masuknya film festival, atau film non komersil, atau film ‘idealis’ ke dalam bioskop 21/XXI, meski hanya tayang di sedikit bioskop dan dalam waktu yang singkat. Ya, saya akan memburunya di awal tayang, kadang menjelang ‘masa berlakunya’ habis di bioskop. Saya sangat suka dengan film-film ‘tak biasa’ seperti ini, yang dibuat dan diperankan oleh seniman-seniman ‘nyeleneh’ asli daerah. Setelah SITI, ISTIRAHATLAH KATA-KATA, ZIARAH, dan lain-lain, kini hadir lagi, TURAH.

Wicaksono Wisnu Legowo meracik TURAH dengan gamblang, jujur, tanpa basa-basi. Sutradara muda ini terlihat sangat memahami kultur di kampung tersebut pada film pertamanya ini. Jadi, saya pun menikmatinya dengan cerita yang mengalir apik, dengan benang merah yang diangkat sangat sederhana yaitu tentang kecemburuan sosial. Aliran ceritanya pun semakin kuat dengan pemain-pemain bukan bintang yang memainkan perannya masing-masing sangat natural, termasuk dengan logat ngapak Tegal-nya yang menurut saya semakin memperkaya film ini lewat bahasa daerah tersebut. Bahasa Tegal yang digunakan memang terdengar jenaka bagi sebagian penonton di TIM XXI yang nonton bersama saya. Mereka tertawa dan menirukan dialog dengan sangat berisik, yang ada di awal hingga tengah film. Bagi saya, hal itu sangat mengganggu karena scene yang ditampilkan adalah cerita yang serius dan menyentuh.

Semua pemain bermain bagus. Dua tokoh sentral di sini adalah Turah dan Jadag. Untuk setiap adegan dan dialog, tidak ada gugup terlihat dari mereka. Dan kalau saya boleh memilih pemain terbaik di film ini, saya akan memberikan penghargaan untuk Slamet Ambari yang memerankan Jadag. JUARA banget aktor ini. Salut, kagum, angkat topi.

Dari segi sinematografi, sebenarnya tidak ada yang istimewa dari film ini. Hanya saja, entah kenapa angle-angle dan permainan cahaya, sampai tampilan gambar saat hujan membuat saya kagum. Bahkan akhir film ditutup dengan kamera yang seperti tidak sengaja jatuh, ini asli nyeleneh banget. Saya suka.

Film ini memang hanya menceritakan kehidupan di Kampung Tirang, Tegal, Jawa Tengah. Tetapi terlihat jelas sasaran film ini juga mengkritik kehidupan di negeri ini. Apa yang terjadi pada Turah, Jadag, Darso, Pakel, dan seluruh warga kampung ada di kehidupan kita sehari-hari, sangat dekat. Iya, sangat dekat! Dan salah satu ciri khas film-film seperti ini adalah, penonton tidak dibiarkan keluar bioskop dengan nyaman karena sudah mengerti film ini, tidak! Bagaimana, sih? Iya, ending film dibuat gantung, dan penonton disuruh mikir sekeluarnya dari bioskop untuk menebak dan mengerti sendiri arah atau arti atau maksud filmnya. Ini yang paling saya suka. KEREN!

Dari saya:
images

TURAH

Genre: Drama
Sutradara: Wicaksono Wisnu Legowo
Rumah Produksi: Fourcolours Films
Penulis Skenario: Wicaksono Wisnu Legowo
Produser: Ifa Isfansyah
Durasi Film: 83 menit

Pemain

Ubaidillah: Turah
Slamet Ambari: Jadag
Yono Daryono: Darso
Rudi Iteng: Pakel
Narti Diono: Kanti [istri Turah]
Siti Khalimatus Sadiyah: Sulis [gadis cilik perawat neneknya]
Cartiwi: Rum [istri Jadag]

TRAILER

[Review] Banda The Dark Forgotten Trail

DGtVBmyUwAACQZS

SINOPSIS

Film dokumenter tentang Jalur Rempah Nusantara pada tahun 1500’an yang saat itu harga pala di Eropa jauh lebih mahal dari harga emas. Monopoli bangsa Arab dan Perang Salib membuat Eropa mencari pulau penghasil rempah. Kepulauan Banda yang tersebar di Laut Banda, Maluku Tengah, dengan kota terbesarnya Banda Neira, pada waktu itu merupakan satu-satunya tempat pohon pala tumbuh. Kepulauan Banda pun diperebutkan, bahkan Belanda rela melepas Nieuw Amsterdam (sekarang Manhattan, New York) demi bisa mengusir Inggris dari Banda, ditukar dengan Pulau Rhun di Kepulauan Banda.

Perbudakan dan pembantaian pertama di Indonesia terjadi di Kepulauan Banda yang melahirkan semangat kebangsaan dan multikultural. Kepulauan Banda sekarang telah menjadi situs warisan sejarah Dunia.

Dalam BANDA THE DARK FORGOTTEN TRAIL diperlihatkan kepulauan Banda yang kini terlupakan, yang pada masa lalu menjadi kawasan paling diburu karena menghasilkan pala terbaik. Pala sendiri menjadi salah satu komoditi rempah yang dihargai sangat tinggi pada eranya.

Tak hanya pala, sejarah Banda penuh dengan darah dan kesedihan. Kejayaan Banda dan pala berubah saat VOC tiba dan melakukan aksi paling brutal sepanjang sejarah. Dari jumlah 15.000 orang, setelah peristiwa pembantaian pada tahun 1621 jumlah penduduk asli Kepulauan Banda hanya tersisa 480 orang.

Banda juga turut berperan penting dalam lahirnya Indonesia. Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Dr. Tjipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusuma Sumantri dibuang ke Banda Neira. Di Banda tempat pengasingan mereka inilah muncul ide-ide kebangsaan. Bahkan Nama Hatta dan Sjahrir diabadikan sebagai nama pulau yaitu Pulau Hatta (menggantikan nama Pulau Rozengain) dan Pulau Sjahrir (menggantikan nama Pulau Pisang)

REVIEW [ditulis oleh Prast Lampard]

“Anak-anakku takut nontonnya, serem kata mereka. Kirain nampilin keindahan Banda kayak laut biru, banyak ikan-ikan dan terumbu karang indah, langit cerah, aktivitas-aktivitas warganya, pokoknya terang, deh, ternyata bukan.” ucap seorang teman saya yang baru selesai nonton film ini.

Kalau ingin menyaksikan film Banda yang seperti itu, saya rasa di youtube cukup banyak dan mudah didapat. Tetapi saya sangat setuju film ini dibuat dengan konsep sesuai tema yang mengangkat sejarah gelap, kelam dan mencekam Banda tempo doeloe, dengan tampilan DARK!

Dua kali saya nonton film ini, dua kali pula nyaris sepanjang film saya merinding. Kenapa? Karena hampir semua tempat yang ditampilkan sudah pernah saya kunjungi, dan cerita kelam tersebut sudah saya dapat dari saudara-saudara saya di Banda yang memandu saya ketika menjelajah Kepulauan Banda. Ya, sejarah yang tidak pernah saya dapat di sekolah, baru saya ketahui November 2014 saat saya mulai mendarat di Banda Neira. Lewat film ini, sejarah yang lebih detail semakin saya dapat.

Setuju dengan sang sutradara, Jay Subyakto, yang mengatakan bahwa ini cara belajar sejarah yang efektif dan asyik. Jay Subyakto mengisahkan sejarah Kepulauan Banda dan pala dengan sangat apik lewat narasi bergaya puitis yang dibawakan Reza Rahadian (versi bahasa Indonesia yang saya tonton). Entah apa isi kepala Jay? ‘Sadis’ banget, dahsyat! Kalau bukan Jay, mungkin filmnya tidak akan se-KEREN BANGET ini! Sinematografi yang luarbiasa ciamik, melibatkan enam D.O.P andal, menampilkan gambar-gambar JUARA penuh nilai artistik tinggi, dengan iringan musik yang membuat filmnya menjadi semakin megah. Angle-angle tak biasa, potongan-potongan gambar yang cepat, pengulangan-pengulangan beberapa gambar yang ditampilkan, pewarnaan, hingga perpaduan dengan animasi semuanya diramu sangat bagus. Bahkan hanya menampilkan jendela kayu dan pintu rumah warga Banda saja, bagi saya sangat mengagumkan.

Dari segi cerita, BANDA THE DARK FORGOTTEN TRAIL mengisahkan sejarah Banda yang menjadi cikal bakal Indonesia dengan sangat detail. Menghadirkan narasumber yang sangat kompeten dan menguasai soal Banda. Ada sejarawan, tokoh dan warga Banda seperti DR. H. Usman Thalib, Pongky van den Broeke, Wim Manuhutu, Lukman A. Ang, Shafira Boften, Mita Alwi, dan lain-lain. Mereka bercerita dengan sangat lugas dan jelas, memberi gambaran dengan sangat baik. Kalau saya boleh memilih narasumber idoala saya, beliau adalah Pak Pongky van den Broeke, keturunan ke-13 seorang perkenier asal Belanda, yang mampu bertutur dengan artikulasi dan intonasi yang jelas, serta penggunaan bahasa Indonesianya sangat baik sesuai dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan Pedoman EYD. Beliau seorang yang pintar dan berwawasan luas, itu terlihat dari setiap kata dan kalimat yang keluar dari mulutnya, sangat berisi. Kisah beliau dan keluarganya di tahun 1999-lah saat terjadi kerusuhan dahsyat di Maluku yang paling membuat saya menangis.

Saya hanya menonton dengan narasi berbahasa Indonesia yang diantarkan oleh Reza Rahadian. Reza menjadi narator yang sangat bagus di sini. Suara yang berat, kalimat-kalimatnya jelas, termasuk ketika ia berbahasa Perancis membacakan coretan di jendela kaca Istana Mini, dan yang paling menyentuh ketika ia membacakan sebuah puisi karya Chairil Anwar, Cerita Buat Dien Tamaela. Pilihan yang sangat tepat, dan menunjukkan bahwa Reza bukan hanya aktor yang bagus serta laku secara fisik dan akting, tetapi suaranya juga bisa ‘dijual’.

Saya setuju dengan pesan Pak Usman Thalib yang mengatakan bahwa di masa depan masyarakat Banda boleh maju dan berkembang, tetapi beliau berharap Banda tetap menjadi seperti sekarang sebagai daerah yang penuh sejarah, daerah kolonial abad ke-17, dengan mempertahanakan nilai-nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Pun pesan Pak Wim Manuhutu sangat saya setujui bahwa beliau tidak ingin Banda dikunjungi banyak wisatawan, tetapi mereka tidak mengerti apa yang dilihat, hanya jalan-jalan dan menikmati yang bagus-bagus saja. Beliau ingin wisata sejarah dan budaya dikembangkan di Banda. Dan mendengar pesan beliau, saya bersyukur saat berkunjung ke Kepulauan Banda bersama NEGERI {KITA} SENDIRI, melakukan seperti apa yang beliau mau. Dari situlah untuk kali pertama saya tahu sejarah Banda.

Kenapa film ini harus ditonton? Ini adalah sejarah besar yang tidak pernah saya dapat di sekolah. Banda adalah cikal bakal lahirnya INDONESIA. Ya, dari Banda-lah INDONESIA menjadi ada. Keberagaman sudah ada di Banda sejak dahulu dengan bermukimnya orang-orang Persia, India, dan Cina, serta berbagai agama dan keyakinan pun sudah hidup bersama di Banda. Ini juga film dokumenter yang disajikan dengan cara berbeda dan menarik.

Bagi saya, BANDA THE DARK FORGOTTEN TRAIL adalah FILM DOKUMENTER TERBAIK INDONESIA yang pernah saya tonton. Bahkan mungkin bisa menjadi yang terbaik sepanjang masa.

Film BANDA THE DARK FORGOTTEN TRAIL ditutup dengan puisi yang semakin membuat saya hanyut, dibacakan oleh sang narator, Reza Rahadian, dengan sangat elok, dilanjutkan dengan lagu INDONESIA RAYA yang dinyanyikan anak-anak Banda sambil mendayung perahu mereka di laut Banda.

CERITA BUAT DIEN TAMAELA
Karya: Chairil Anwar

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu

Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut

Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan

Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama

Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.

Mari menari!
mari beria!
mari berlupa!

Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau…

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu

 

Salut, kagum, bangga, dan angkat topi untuk semua pihak yang terlibat dalam pembuatan film yang semakin membuat saya kangen Banda dan jadi pengin segera kembali lagi ke sana. Terima kasih yang teramat sangat dari saya, Prast.

Director: Jay Subyakto
Script Writer: Mohammad Irfan Ramly
Producer: Sheila Timothy
Co-Produser: M. Abduh Aziz
Line Producer: Sari Mochtan
Music: Indra Perkasa
Sound Designer: Satrio Budiono
Sound Recordist: Yusuf A. Patawari
Cinematography: Rahmat Syaiful
Film Editing: Aline Jusria, Cundra Setiabudhi, Syauqi Tuasikal
Second Unit Camera: Davy Linggar, Oscar Mtuloh
Animation Producer: Agam Amintaha
Creative Consultant Animation: Chandra Endropoetro
Animation Art Director: Damas Nawanda
Post-Production Producer: Rico Mangunsong
Narator: Reza Rahadian (bahasa Indonesia), Ario Bayu (bahasa Inggris)

TRAILER

Review: Filosofi Kopi 2: Ben & Jody

“Kopi itu bukan untuk diminum, tapi dinikmati.” ujar pak Haryo (Tyo Pakusadewo)

FILKOP2 - Official Poster_FINAL copy

Pun dengan film ini, BUAT GUE, asyik banget dinikmati. Kali ini gue nulis review selain (masih) sebagai penikmat film bukan pengamat, juga sebagai penikmat kopi, dan orang yang kadang-kadang traveling. Hanya kadang-kadang. Silakan berbeda pendapat dengan gue, karena selera film kita bisa saja berbeda, dan menonton dari kacamata yang berbeda. Gue nulis semau gue, sesuai yang ada di kepala dan hati gue, jadi SANGAT SUBJEKTIF!

Gagasan ceritanya hasil dari dua pemenang kompetisi #NgeracikCerita Filosofi Kopi 2 yang dilombakan. Dari cerita mereka, Jenny Jusuf dibantu Irfan Ramly mengembangkan ceritanya, dengan Angga Dwimas Sasongko dan Dewi ‘Dee’ Lestari sebagai konsultan skenario. Benang merahnya adalah, Ben [Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) ingin membangun kembali Filosofi Kopi yang kedainya di Jln. Melawai, Jakarta Selatan, telah dijual dua tahun lalu, kemudian mereka menjajakan kopi menggunakan kombi keliling Indonesia seperti Bromo, Bali, dll, untuk membagikan kopi terbaik. Puncaknya, di suatu malam Aga dan Aldi menyatakan resign mengikuti Nana yang lebih dulu resign karena hamil, Ben dan Jody memutuskan menghentikan ‘petualangan’ tersebut, dan ingin kembali ke Jakarta guna mencari investor untuk Reopening Filosofi Kopi. Hadirlah sosok Tarra (Luna Maya) sebagai investor, diikuti Brie (Nadine Alexandra) sebagai barista baru. Mereka pun akhirnya juga punya kedai Filosofi Kopi di Yogyakarta. Cerita selanjutnya? Nonton aja, deh, ke bioskop. Hahahaha…

▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪

Gue sebagai penikmat kopi, yang dulu cuma kenal kopi sachet, lalu mulai tau kopi-kopi Indonesia dari berbagai daerah dan menikmatinya akibat sokongan dari teman-teman yang pergi ke daerah dan menghadiahi kopi, sampai mulai bisa membedakan kopi dari Sumatera, Jawa, Bali, Toraja, Flores, hingga Papua, lalu mengerti perbedaan Robusta dan Arabica, hingga kini terbiasa minum kopi Arabica yang asam tanpa gula, kisah tentang kopi di film ini masih cukup detail. Tentang pertanian atau budidaya kopi, kedainya yang unik dan etnik, peralatan-peralatannya, teknik meraciknya, dan cara nyeruputnya, gue suka banget! Bikin sugesti untuk menikmati kopi saat nonton muncul ke permukaan. Jadi pengin punya bisnis kopi juga deh. Hehehehe…

Lebih banyak tokoh di film yang kedua ini, tetapi porsi terbanyak tetap menjadi milik Ben, Jody, Tarra, dan Brie. Tokoh-tokoh tambahan aktor-aktor senior seperti Landung Simatupang (Pak Susno), Tyo Pakusadewo (Pak Haryo), Whani Darmawan (Pak Waluyo), dan Otig Pakis (Ayah Ben), ditambah pemain-pemain muda seperti Ernest Prakasa (Keenan), Melissa Karim (Cici), Muhammad Aga (Aga), Aufa Assegaf (Aldi), Westny DJ (Nana), dan Joko Anwar (Jokan si penagih utang), bermain sesuai porsinya yang memiliki peran cukup penting di film ini.

Konflik yang dihadirkan cukup dalam. Penyebab konflik adalah seorang pengusaha yang tidak ada tokohnya dalam film ini, tetapi hanya dihadirkan lewat sebuah simbol. Jenius, sih, cara ini menurut gue. Apaan? Ya nonton aja. Yang pasti konfliknya nggak kacangan, deh!

Terjadi kisah cinta antara empat tokoh utamanya. Tapi percintaannya nggak menye-menye, bahkan tidak ada adegan ciuman satu kali pun. Percintaan yang asyik dilihat. Sangat dewasa, bukan a la 4L4Y.

Sebagai orang yang kadang-kadang traveling, gue senang dan kagum lihat view yang ditampilkan film ini untuk Bromo, Bali, Jogja, Makassar (meski hanya kota), dan Toraja. Keren banget! Termasuk promo pariwisata juga, sih, ini. Hhmmm… jadi pengin traveling (lagi).

Soundtrack dalam film ini dari band-band indie sangat manis, enak dikupingin, dan sesuai dengan kebutuhan tiap scene. Bahkan beberapa band ikut tampil dalam film, dan saat Fourtwnty manggung membawakan lagu “Zona Nyaman”, lirik lagunya membuat Ben termotivasi untuk menghidupkan kembali Filosofi Kopi ketika ia dan Jody berada tepat di depan panggung. Cerdas!

Sponsor film ini banyak banget, namun dihadirkan nggak terlalu frontal, cukup halus, lah. Pintar.

Akting Luna maya (Tarra) melebihi ekspektasi gue, BAGUS! Meski di usianya yang baru 33 tahun ia terlihat jauh lebih dewasa, sih, di film ini. Apalagi sering banget wajahnya ditampilkan segede layar bioskop, full. Mungkin juga karena dia investor jadi harus tampil dewasa kali, ya? Yang jelas, Luna layak, lah, menjadi nominator Pemeran Pembantu Wanita terbaik FFI nanti, bahkan membawa pulang Piala Citra, saya setuju.

Nadine Alexandra (Brie) hadir sebagai barista yang sangat cantik, kutu buku, lutcyuuuuu, hitam manis, lugu, lempang, dan menggemaskan. Kacamatanya bikin tambah kece, dan nggak lama lagi gue yakin akan melihat banyak wanita memakai kacamata seperti Brie. Iya, bakal ngetren, sih, ini. Oiya, jerawat kecil-kecil di wajahnya malah menambah manis. Brie adalah idola gue di film ini.
*Apaa siiiiiiih??? Hahahahaha…

Ben dan Jody, ah, chemistry-nya semakin megang. Konflik pun tidak mampu memutus tali persahabatan mereka. Banyak kelakar dari mereka berdua lewat Ben yang temperamental, dan Jody yang penyabar. Paling asyik kalo mereka sudah mengeluarkan umpatan-umpatan, alami banget. Termasuk umpatan-umpatan menggunakan bahasa Tiongkok. Kocak dan seru! Tak lupa istilah “gondrong” dari mereka untuk menyebut wanita-wanita berambut panjang, itu menghadirkan kejenakaan tersendiri, sih, menurut gue.

Angle-angle yang ditampilkan oleh Angga Dwimas Sasongko di film ini juara banget. Sangat apik, dan gue suka! Ngefans abiiiiiiiissss… 👍

Film kedua ini lebih dewasa dan complicated. Kalo disuruh milih, gue lebih suka yang kedua ini, ‘Filosofi Kopi 2: Ben & Jody’ tahun 2017, daripada ‘Filosofi Kopi (The Movie)’ tahun 2015.

“Ayahku dulu pernah bilang, ada hal yang lebih penting dari sekadar membuatkan kopi untuk orang lain.” kisah Ben. Lalu Brie memotong omongan Ben, “Menanam kopi.”

Film yang asyik untuk dinikmati.

Dari gue:
3,5/5

#FilmIndonesia
#FilmBagusIndonesia
#CintaFilmIndonesia
#BanggaFilmIndonesia